Saturday, October 10, 2015

Proses Muncul dan Berkembangnya Kehidupan Awal Manusia dan Masyarakat di Kepulauan Indonesia


Proses Muncul dan Berkembangnya Kehidupan Awal Manusia dan Masyarakat di Kepulauan Indonesia
Ahli geologi membagi proses pembentukan bumi menjadi empat, yaitu Zaman Arkhaikum, Zaman Paleozoikum, Zaman Mesozoikum, dan Zaman Neozoikum.

1. Zaman Arkhaikum (Azoikum)

Zaman saat belum ada kehidupan di bumi berlangsung sekitar 2.500 juta hingga 1.200 tahun yang lalu. Hal ini disebabkan bumi masih panas dan adalah bola gas panas yang berputar pada porosnya.

2. Zaman Paleozoikum

Zaman Paleozoikum adalah zaman saat terdapat kehidupan makhluk pertama di bumi. Zaman ini disebut zaman primer (karena untuk pertama kalinya ada kehidupan). Zaman hidup pertama di bumi terbagi menjadi beberapa tahap kehidupan, antara lain, sebagai berikut.

  1. Cambrium, ada kehidupan amat primitif seperti kerang dan ubur-ubur.
  2. Silur, mulai ada kehidupan satwa bertulang belakang, misalnya, ikan.
  3. Devon, mulai ada kehidupan hewan jenis amfibi tertua.
  4. Carbon, mulai ada hewan merayap jenis reptil.
  5. Perm, mulai ada satwa darat, ikan air tawar, dan amfibi.


3. Zaman Mesozoikum

Zaman Mesozoikum disebut zaman sekunder (zaman hidup kedua) dan disebut juga zaman reptil sebab muncul reptil yang besar seperti Dinosaurus dan Atlantosaurus. Zaman ini terbagi menjadi tiga.

  1. Trias, terdapat kehidupan ikan, amfibi, dan reptil.
  2. Jura, terdapat reptil dan sebangsa katak.
  3. Calcium, terdapat burung pertama dan tanaman berbunga

Ikan yang hidup di darat kemudian berubah (mengalami evolusi), siripnya tumbuh menjadi kaki yang kuat, ekornya tumbuh semakin panjang, kepalanya semakin besar dan keras, satwa ini merupakan jenis amfibi. Beberapa jenis satwa amfibi tumbuh menjadi semakin besar bahkan melebihi seekor buaya, bentuknya berubah, sisiknya menjadi besar. Telurnya berkulit keras seperti telur ayam (inilah yang kita kenal dengan nama Dinosaurus, Brontosaurus, dan Atlanto- saurus). Umumnya Dinosaurus pemakan tumbuhan, kecuali Tyranosaurus. Rahangnya amat besar, giginya banyak dan panjang. Brontosaurus besarnya sepuluh kali gajah, hidupnya di air sebab air menolong meringankan berat badannya.

Ada juga reptil yang bisa terbang, memiliki sayap yang lebar dan mampu terbang berjam-jam di udara mencari makanan. Paruhnya panjang digunakan untuk menyambar ikan yang tampak di permukaan air, salah satu jenisnya adalah Pteranodon.

4. Zaman Neozoikum

Zaman Neozoikum adalah zaman bumi baru (bumi sudah terbentuk seluruhnya). Zaman ini terbagi menjadi zaman tersier dan zaman kuarter.

  1. Zaman tertier, yaitu zaman hidup ketiga, makhluk hidupnya berupa hewan menyusui sejenis monyet dan kera, reptil raksasa mulai lenyap, dan pada akhir zaman ini sudah ada jenis kera-manusia. Zaman ini ditandai dengan munculnya tenaga endogen yang dahsyat sehingga mematahkan kulit bumi. Kejadian itu membentuk rangkaian pegunungan besar di seluruh dunia. Karena adanya pegunungan itu, timbullah letusan-letusan gunung berapi yang membentuk relief permukaan bumi. Zaman tertier terbagi atas Eosen, Miosen, Oligosen, dan Pliosen. Pada zaman tertier inilah, hewan menyusui berkembang sepenuhnya. Muncul juga orang utan di masa Miosen, daerah asalnya dari Afrika sekarang. Pada saat itu, Benua Afrika masih menyatu dengan Jazirah Arab.
  2. Zaman kuarter, yaitu zaman hidup keempat. Pada zaman ini, mulai muncul kehidupan manusia. Zaman ini dibedakan menjadi zaman Pleistosen (Diluvium) dan kala Holosen (Aluvium). Pada zaman Diluvium ini, terjadi penurunan suhu dengan drastis bahkan sampai di bawah 0oC sehingga muncul zaman Es (zaman Glasial). Pada zaman Glasial, permukaan laut menurun sehingga perairan dangkal berubah menjadi daratan. Pulau Bali, Jawa, Kalimantan, dan Sumatra menyatu dengan daratan Asia. Ketika es Kutub Utara mencair (interglasial), permukaan air laut naik dan menenggelamkan sebagian Eropa Utara, Asia Utara, dan Amerika Utara. Pulau Jawa, Bali, Kalimantan, dan Sumatra terpisah dari daratan Asia, membentuk laut dangkal yang disebut Paparan Sunda, sedangkan Pulau Papua dan sekitarnya terpisah dengan daratan Australia yang melahirkan Paparan Sahul. Antara Paparan Sahul dan Paparan Sunda dipisahkan oleh perairan dalam yang dinamakan daerah Wallacea dan menjadi garis Wallacea yang membedakan jenis flora dan fauna. Sampai sekarang sudah terjadi empat kali zaman es, yaitu Gunz, Midel, Riss, dan Wurm. Kepulauan Indonesia dalam bentuknya sekarang terjadi pada zaman Glasial Wurm. Zaman Holosen atau zaman Aluvium adalah zaman lahirnya jenis Homo sapiens, yaitu jenis manusia seperti manusia sekarang.


Tugas

Jelaskan kembali terjadinya bumi menurut ahli geologi agar kita mengetahui kapan kehidupan ini mulai ada dan berkembang! Tulislah jawaban Anda pada kertas folio dan laporkan hasilnya kepada guru!

Konsep dan Aktualita

Pembagian zaman berdasar geologi.

  1. Zaman Arkhaikum 2.500 juta tahun yang lalu sebelum ada kehidupan sebab bumi masih panas.
  2. Zaman Palaezoikum 340 juta tahun yang lalu, mulai ada kehidupan tertua di bumi (zaman primer).
  3. Zaman Mesozoikum 140 juta tahun yang lalu, mulai muncul reptil raksasa dinosaurus (zaman sekunder).
  4. Zaman Neozoikum 60 juta tahun yang lalu, terdiri dari: (a) Zaman Tertier munculnya hewan menyusui; (b) Zaman Kuarter 600.000 tahun yang lalu, zaman ini terdiri dari: Kala Pleistosen 600.000 tahun, dan Kala Holosen 20.000 tahun.


Sumber : Cakrawala Sejarah SMA/MA Kelas X

Prinsip-Prinsip Dasar dalam Penelitian Sejarah Lisan


Penelitian sejarah lisan membutuhkan suatu metode pengumpulan data atau bahan penulisan sejarah yang dilakukan peneliti sejarah melalui wawancara secara lisan terhadap pelaku atau saksi peristiwa. Metode ini sudah digunakan sejak masa lalu yang semula digunakan di Amerika Serikat.

Langkah yang wajib ditempuh untuk penelitian sejarah lisan adalah menemukan sumber pendukung yang berasal dari para pelaku atau saksi-saksi langsung serta tempat terjadinya peristiwa untuk mencari latar belakang dan pemahaman akibat dari peristiwa yang ditimbulkan sehingga akan mendekati kebenaran seperti yang diharapkan.

Oleh sebab itu, untuk melaksanakan penelitian sejarah lisan perlu adanya sumber dari para pelaku atau para saksi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara pada pelaku atau saksi peristiwa. Namun, terkadang keterangan para pelaku bersifat subjektif sehingga perlu dilakukan penyeleksian atau analisis secara teliti (misalnya, yang menguntungkan pelaku dikatakan, sedangkan yang dianggap negatif atau merugikan pelaku disembunyikan). Kritik pada sumber lisan adalah dengan melaksanakan cross check atau mengecek dengan sumber lisan lainnya.

Berikut teknik-teknik pengumpulan data sumber lisan.

1. Sumber khabar dari pelaku sejarah

Pelaku adalah unsur utama yang berperan dalam peristiwa sebab para pelaku tahu persis latar belakang peristiwa itu, apa yang terjadi, sasaran dan tujuannya, serta mengapa terjadi dan siapa saja pelakunya. Metode wawancara kepada pelaku merupakan metode yang paling tepat untuk mengungkapkan dan memaparkan suatu peristiwa.

Ada beberapa cara dalam pengumpulan informasi lisan melalui teknik wawancara, yaitu adanya seleksi individu unt uk diwawancarai guna memperoleh informasi yang akurat (maksudnya kedudukan orang itu dalam suatu peristiwa, sebagai pelaku utama, informan, atau saksi), harus Sumber: Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia ada pendekatan kepada orang yang diwawancarai, Gambar 3.11 Wawancara dalam sejarah lisan mengembangkan suasana lancar dalam wawancara harus menggunakan tape recorder dengan pertanyaan yang jelas, tidak berbelit dan menghindari pertanyaan yang menyinggung perasaan. Persiapkan pokok-pokok masalah yang akan ditanyakan dengan sebaik-baiknya agar mendapat data yang lengkap dan akurat.
Prinsip-Prinsip Dasar dalam Penelitian Sejarah Lisan

Wawancara langsung dapat dilakukan dengan metode-metode berikut.

  1. Wawancara dilakukan dengan pertanyaan acak dan jawaban tidak ditentukan (pertanyaan terbuka).
  2. Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan dengan jawaban yang telah ditentukan (pertanyaan tertutup).
  3. Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan lebih dahulu baru kemudian responden menjawab satu per satu.
  4. Wawancara dilakukan dengan cara mengajukan suatu pertanyaan, lalu responden langsung menjawabnya. Setelah selesai, pewawancara mengajukan pertanyaan selanjutnya.
  5. Wawancara dilakukan dengan menggunakan tape recorder yang dapat menyimpan kesaksian pelaku atau saksi lisan itu.


2. Sumber khabar dari saksi sejarah

Orang yang pernah melihat atau menyaksikan suatu peristiwa, tetapi bukan pelaku, disebut saksi. Berita juga sering disampaikan oleh para saksi peristiwa, dapat berupa berita kebenaran, khabar sepihak, atau hanya sekadar khabar dari suatu peristiwa. Para saksi juga tidak melihat secara utuh dan detail suatu peristiwa sebab dia hanya sekadar mengetahui suatu peristiwa, itu saja tidak seluruhnya. Oleh sebab itu, keterangan dari para saksi perlu didukung oleh data lain yang memperkuat bukti peristiwa sejarah.

3. Sumber khabar dari tempat kejadian peristiwa sejarah

Masalah tempat sering memiliki kaitan dalam sebuah peristiwa, misalnya, peristiwa Rengasdengklok, penyusunan teks proklamasi, dan tempat proklamasi. Tempat itu menjadi saksi sejarah yang mampu menjadi sumber lisan.

Tugas Carilah di sekitar tempat tinggal Anda contoh artefak dan ceritakan kembali mengenai sejarah artefak itu. Carilah pula sumber sejarah tertulis yang terdekat dengan tempat tinggal Anda serta jelaskan isi sumber sejarah itu! Kumpulkan hasilnya pada guru! Rangkuman

1. Dalam penelitian sejarah ada empat tahapan.

a. Heuristik, yaitu tahap mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dengan topik atau judul penelitian.
b. Verifikasi, yaitu penilaian pada sumber sejarah yang sudah dikumpulkan, aspek ekstern mempersoalkan apakah isi yang terdapat dalam sumber itu dapat memberikan infomasi yang diperlukan.
c. Interpretasi, yaitu penafsiran fakta sejarah dan merangkai fakta itu menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal.
d. Historiografi, yaitu penulisan sejarah berdasar sumber sejarah.

2. Sumber sejarah adalah semua yang menjadi pokok sejarah. Muh. Yamin mengatakan bahwa sumber sejarah adalah kumpulan benda kebudayaan untuk membuktikan sejarah.

3. Sumber-sumber sejarah.
• Sumber lisan, yaitu keterangan langsung dari pelaku atau saksi dari peristiwa yang terjadi pada masa lampau.
• Sumber tertulis yang diperoleh dari peninggalan tertulis. Jika tulisan yang didapat adalah tulisan kuno, perlu ilmu bantu, yaitu epigrafi.
• Sumber benda kuno, untuk mengungkapkannya perlu pertolongan ilmu lainnya, seperti arkeologi, ikonografi, nomismatik, ceramologi, geologi, antropologi, dan paleontologi.

4. Fakta sejarah memiliki beberapa bentuk.
a. Artefak, yaitu semua benda baik secara keseluruhan atau sebagian hasil garapan tangan manusia.
b. Fakta sosial adalah fakta sejarah yang berdimensi sosial, misalnya, interaksi antar- manusia dan pakaian adat.
c. Fakta mental, yaitu fakta yang sifatnya abstrak, misalnya, keyakinan (kepercayaan).

5. Jenis-jenis sejarah berdasar fokus masalah dibedakan menjadi empat.
• Sejarah geografi, dikaitkan dengan lokasi di mana peristiwa itu terjadi.
• Sejarah ekonomi, yang dibicarakan bagaimana upaya memenuhi kebutuhan manusia.
• Sejarah sosial, yang dikaitkan dengan kehidupan masyarakat pada suatu masa.
• Sejarah politik, yang dibicarakan mengenai kekuasaan yang terjadi pada suatu masa.

6. Jenis sejarah dilihat dari cakupan geografis terbagi menjadi tiga.
• Sejarah dunia, yang membentangkan kehidupan manusia di dunia.
• Sejarah nasional, yang membentangkan sejarah bangsa Indonesia.
• Sejarah lokal, yang senantiasa mengungkapkan sejarah setiap wilayah (daerah).

7. Prinsip dasar penelitian sejarah lisan dapat dilakukan dengan teknik sebagai berikut.
• Sumber khabar dari pelaku sejarah.
• Sumber khabar dari saksi sejarah.
• Sumber khabar dari tempat kejadian.


Evaluasi

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas! Sebutkan langkah-langkah dalam penelitian sejarah! Apa yang Anda ketahui mengenai heuristik itu? Mengapa heuristik penting dalam penulisan sejarah? Apakah interpretasi dalam sejarah itu? Mengapa historiografi adalah tahap akhir dalam kegiatan penelitian sejarah?

Sumber : Cakrawala Sejarah SMA/MA Kelas X

Jenis-Jenis Sejarah


Sejarah sebagai suatu ilmu pengetahuan
mempelajari pengetahuan pada masa lampau dalam
lingkup kehidupan manusia. Kejadian dalam sejarah
itu dapat digolongkan dalam beberapa jenis sejarah
sehingga dalam pembahasan sejarah lebih terfokus
pada suatu masalah, meskipun dalam pembahasan
itu juga terkait dengan bermacam-macam masalah. Oleh
karena itu, yang dimaksud jenis dan kategori sejarah
adalah perpaduan ciri-ciri yang pada dasarnya
dianggap sebagai karakteristik kelompok dan adanya
kemampuan menampilkan jenis atau tipe sejarah.
Menurut Louis Gattaschalk dalam bukunya
yang berjudul Mengerti Sejarah, terjemahan
Nugroho Notosusanto tahun 1975, dia membagi
sejarah dalam tiga jenis:
1. yang menentukan kelangsungan hidup rekaman
sejarah hanya kebetulan ditemukan;
2. untuk penulisan sejarah di masa mendatang
dengan teknik sampling, akan diperoleh tokoh
sejarah yang konkret;
3. penulisan sejarah yang menggunakan contoh
par excellen, yaitu seorang individu terkemuka
dalam bangsanya yang mempunyai watak mampu
memperbaiki perilaku bangsanya secara optimal
menyeluruh.
Sekilas Tokoh
Gajah Mada adalah patih mangkubumi (perdana
menteri) Kerajaan Majapahit yang berhasil membawa
Majapahit ke puncak kejayaannya. Dengan politik
ekspansinya, kekuasaan Majapahit meliputi hampir
seluruh Kepulauan Indonesia ditambah beberapa
daerah lainnya di Asia Tenggara. Dia muncul sebagai
salah seorang pemuka kerajaan sejak masa
pemerintahan Jayanegara. Kariernya dimulai sebagai
anggota pasukan pengawal raja, dan terus menanjak
pada masa-masa Kerajaan Majapahit dilanda berbagai
pemberontakan.
Salah satu jasa Gajah Mada adalah kemampuannya
meredam pemberontakan Sadeng (1331) sehingga
pada tahun 1334 dia diangkat menjadi Patih
Mangkubumi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi. Pada
saat pengangkatan, Gajah Mada bersumpah di hadapan
ratu dan menteri-menteri kerajaan, bahwa dia akan
mempersatukan Nusantara. Sumpah patih Gajah Mada
itulah yang lalu terkenal sebagai Sumpah
Palapa.
Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah
Sumber:
Ensiklopedi Nasional
Indonesia
51
Ada juga yang membagi sejarah berdasar pada fokus masalah sebagai berikut.
1. Sejarah geografi
Sejarah geografi ini dikaitkan dengan masalah sejarah yang mempunyai keterkaitan
dengan geografi, untuk menjawab pertanyaan "di mana peristiwa itu terjadi?" baik secara
langsung atau tidak langsung. Peristiwa sejarah dalam sejarah geografi ini dikaitkan
dengan tempat dan lokasi kejadiannya. Oleh sebab itu, ilmu pengetahuan mengenai geografi
(ilmu geografi) sangat diperlukan, lalu muncul pertanyaan "mengapa di tempat
tersebut?". Selain itu, pengetahuan geografi juga penting dalam perjalanan sejarah bangsa
Indonesia, luas wilayah Indonesia dan keadaan alam ikut mendukung terjadinya suatu
peristiwa sejarah. Bahkan adat istiadat pun juga mengambil peran. Begitu juga keadaan
alam, dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk menciptakan strategi dalam perang.
2. Sejarah ekonomi
Ilmu pengetahuan yang membahas adanya upaya manusia untuk memenuhi
kebutuhannya disebut ilmu ekonomi. Manusia tidak ada yang dapat memenuhi seluruh
kebutuhan hidupnya sendiri. Untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya itu, mereka
membutuhkan pertolongan orang atau pihak lain. Keadaan inilah yang lalu menimbulkan
terjadinya sistem ekonomi dalam masyarakat (sistem ekonomi kemasyarakatan). Masyarakat
Indonesia mulai mengenal sistem ekonomi sejak masa bercocok tanam dengan sistem barter
(barang ditukar dengan barang) sebab belum mengenal sistem ekonomi uang. Perdagangan
di Nusantara berkembang pesat, terbukanya
jalan dagang darat (jalan sutra) yang kemudian
muncul jalan dagang laut (jalan dagang rempah-
rempah) membuat perdagangan Nusantara
semakin marak, sehingga peran aktif pedagang
Indonesia semakin tampak dalam hubungan
antarbangsa.
Melalui hubungan perekonomian dan
majunya perdagangan inilah banyak pedagang
Cina dan India yang masuk ke nusantara. Sumber: Widya Wiyata Pertama Anak-anak, Tempat-Tempat Terkenal
Keberadaan mereka memiliki pengaruh besar, baik
Gambar 3.8 Rute Jalan Sutra
di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan religius.
Bahkan kerajaan-kerajaan Nusantara dapat
Inskripsi
dikenal di luar negeri akibat banyaknya pedagang-
pedagang asing yang singgah di kerajaan pada
Jalan Sutra adalah nama jalur kuno yang
menghubungkan Cina dan Eropa. Melalui
masa itu. Dengan demikian sejarah ekonomi
jalur inilah hasil terkenal dari Cina Kuno
bangsa Indonesia berkembang dari tingkat
dipasarkan ke Italia, Prancis, dan negara Eropa
lainnya. Jalan Sutra membentang dari Xi'an
sederhana ke arah ekonomi luas bahkan mampu
hingga Timur Tengah sepanjang + 6.450 km.
menembus ekonomi internasional.
52

3. Sejarah sosial
Sejarah sosial bangsa Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat.
Masalah sosial menjadi pendorong munculnya peristiwa-peristiwa sejarah. Sejarah sosial
mengalami proses perkembangan sesuai dengan perkembangan taraf hidup manusia.
Ketika masa bercocok tanam, kehidupan sosial mulai tumbuh, gotong royong dirasakan
sebagai kewajiban yang mendasar dalam kehidupan sehari-hari. Mereka hidup secara
bersama-sama dalam satu kelompok sosial, mereka masih food gathering (mengumpul-
kan makanan) yang lalu meningkat ke food producing (menghasilkan makanan).
Sejarah sosial terus mengalami perkembangan selaras dengan perkembangan masya-
rakatnya dari yang paling sederhana ke tingkat yang lebih maju. Munculnya modernisasi
masyarakat pun akan terus membangun kemajuan sosial. Seperti dalam taraf hidup yang
sederhana di masa bercocok tanam, maka upaya sosial muncul dengan masyarakat gotong
royong yang dirasakan sebagai hal yang wajib dalam kehidupan bermasyarakat luas
bahkan kepada aturan-aturan masyarakat yang perlu mereka taati bersama untuk dijaga
kelestariannya.
Setelah masuknya hinduisme, kehidupan sosial masyarakat semakin baik, bahkan
mereka secara sukarela dan bersama mampu menghasilkan bangunan yang amat besar dan
dianggap suci, seperti candi Prambanan dan Borobudur.
Masyarakatnya jujur, taat kepada sang pencipta secara
sukarela, juga taat kepada para pemimpin bahkan di dalam
keluarga mereka taat dan saling menghormati. Pada masa
Hindu-Buddha inilah di Indonesia muncul kerajaan yang
pert ama, sepert i Kerajaan Kut ai pada abad ke-5,
Tarumanegara, lalu Sriwijaya di Sumatra. Hubungan
yang erat terjadi di dalam atau di luar istana, walaupun
mempunyai satu arah pada istanasentris bahkan muncul
pengultusan pada raja.
Di zaman Islam, seiring dengan berkembangnya kerajaan
Islam di Nusantara masyarakat sudah mulai teratur, kehidupan
sosial semakin tampak membawa kesejahteraan dan perbaikan
sosial. Kehidupan demokrasi mulai tertata melalui sistem
Sumber: Ensiklopedi
kerajaan. Sistem ini lalu dikembangkan di tengah Gambar 3.9 MakamNasional Indonesia
Sultan Malik
masyarakat luas dengan cara mengurangi sikap feodal sebab
al Saleh, Raja Islam pertama di
Nusantara
para raja Islam sudah memberikan contoh kehidupan yang
demokratis. Oleh sebab itu, masalah sosial tidak lepas dari perkembangan hidup masyarakat
yang menciptakan perkembangan sejarah umat manusia.
4. Sejarah ketatanegaraan dan sejarah politik
Pembicaraan mengenai sejarah ketatanegaraan atau sejarah politik sebenarnya berawal
dari zaman pras aksara. Hanya saja, bagaimana perkembangan atau wujud dari hal
tersebut banyak ahli yang menafsirkan bermacam-macam macam, misalnya, primus inter pares.
Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah
53
Berdasarkan peninggalan sejarah diungkapkan bahwa zaman praaksara berbentuk
kesukuan. Namun setelah pengaruh Hindu dan Buddha masuk ke Nusantara, muncul
sistem baru, yaitu kerajaan, misalnya, Kerajaan Kutai. Sistem kerajaan berkembang luas
di Nusantara, baik di Jawa atau di luar Jawa muncul banyak kerajaan Hindu dan Buddha.
Masuknya agama Islam ke Nusantara memberi angin baik untuk pertumbuhan kerajaan,
sebab memunculkan sistem baru dalam istana. Pada zaman Islam, gelar kepala negaranya
adalah sunan atau sultan, itulah salah satu bentuk perkembangan sejarah ketatanegaraan.
Ada juga yang membagi jenis sejarah secara geografis sebagai berikut.
a. Sejarah dunia
Sejarah dunia menceritakan peristiwa penting sejumlah negara, menyangkut
hubungan antarnegara, serta peristiwa dan fakta sejarah dari banyak negara di belahan
dunia ini. Banyak ahli sejarah dan para peneliti sudah mempublikasikan sejarah dunia,
seperti sejarah negara-negara Eropa, sejarah negara-negara Asia, sejarah Mesir,
sejarah Afrika, dan sejarah Australia yang sudah dibentangkan secara panjang lebar dari
aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang terjadi pada kawasan negara-negara
tersebut.
Contoh penulisan sejarah dunia adalah buku Soebantardjo yang berjudul Sari
Sejarah Asia – Australia. Buku ini menceritakan tentang negara Jepang, Tiongkok
(Cina), India, Ceylon (Sri Lanka), Birma (Myanmar), Malaya, Muangthai (Thailand),
Indocina, Iran, Afghanistan, Arab, Siria, Libanon, Irak, Yordania, Palestina, Mesir,
Turki, dan Australia. Selain itu, Soebantardjo juga menulis sejarah negara-negara
Eropa dan Amerika. Jadi, sejarah dunia menceritakan bagaimana situasi negara-negara
di seluruh kawasan dunia ini dan hubungannya satu dengan yang lainnya.
b. Sejarah nasional
Sejarah nasional menceritakan sejarah bangsa Indonesia mulai sejak pertumbuhan
sampai sekarang. Sejarah zaman purbakala memuat bagaimana keadaan dan kemampuan
masyarakat nenek moyang kita, kepercayaannya, serta hasil-hasil budayanya. Setelah
kedatangan Hindu, diceritakan pula bagaimana wujud akulturasinya, lalu dicerita-
kan pula masuknya Islam serta kehadiran bangsa barat yang akhirnya muncul
penjajahan. Gerakan nasional Indonesia memaparkan bagaimana giatnya perjuangan
nasional yang puncaknya adalah proklamasi serta usaha mengisi kemerdekaan. Beberapa
gangguan keamanan muncul serta adanya usaha Belanda untuk menguasai kembali,
walaupun pada akhirnya mampu kita atasi dan kita pertahankan tanah air ini. Memasuki
zaman modern sekarang ini pun bangsa Indonesia masih terus membuat sejarahnya.
Contoh penyusunan sejarah nasional dilakukan Departemen Pendidikan Nasional
dan diterbitkan sebagai Buku Sejarah Nasional Indonesia dalam enam jilid.
c. Sejarah lokal
Sejarah lokal mengandung pengertian suatu peristiwa yang terjadi pada masa
lampau dan hanya terjadi di suatu daerah atau tempat tertentu yang tidak menyebar ke
daerah lain di Indonesia. Peristiwa-peristiwa yang muncul hanyalah dari daerah tertentu dan
54

memuat masalah-masalah yang ada di daerah tertentu
itu juga, misalnya, sejarah lokal mengenai kampung
Minahasa, sejarah suku Toraja, masyarakat Nias, atau
suku Dayak di Kalimantan. Dalam sejarah lokal muncul
tokoh-tokoh lokal yang memperjuangkan wilayahnya,
misalnya, perjuangan Imam Bonjol dari Sumatra Barat,
perjuangan Teuku Umar dari Aceh, perjuangan
Pangeran Diponegoro dari Jawa (Yogyakarta), dan
pahlawan-pahlawan lain dari bermacam-macam daerah di
Nusantara.
Sejarah lokal adalah sejarah yang penting,
namun sering kali kita justru mendapat sumber-
sumber dari negara lain (misalnya, Belanda), walaupun
Sumber: Ensiklopedi Nasional Indonesia
banyak juga kita temukan bukti-bukti sejarah dari Gambar 3.10 Patung Prajna Paramita
pelosok tanah air. Barang bukti sejarah yang sudah
pindah tangan ke negara lain, misalnya, kitab asli Negara kertagama dan patung Ken
Dedes (Prajna Paramita) yang berada di negara Belanda. Masyarakat yang bergerak maju dan
berkembang memang terjadi di mana-mana, namun di sisi lain akibat dari perkembangan
ini sangat mempersulit pengungkapan bukti sejarah lokal dikarenakan adanya percepatan
pembangunan, pergantian generasi, serta perkembangan penduduk yang pesat sehingga
menambah semaraknya negeri ini. Sejarah lokal dapat dikategorikan menjadi sejarah
peristiwa masa silam, sejarah tentang kerajaan-kerajaan di Nusantara, sejarah yang
membentangkan peranan petani dan para priyayi serta kuli kontrak di zaman Belanda,
dan sejarah lokal yang membentangkan keadaan masa kuno sampai sekarang mengenai
tradisi, adat istiadat, dan kepercayaan pada daerah-daerah tertentu.
Oleh sebab itu, dapat kita perhatikan bagaimana kenyataan dalam penulisan
sejarah lokal sebagai berikut.
1) Sejarah lokal hanya membicarakan daerah tertentu saja, misalnya, sejarah kabupaten
Madiun, sejarah kabupaten Tegal, atau sejarah Yogyakarta.
2) Sejarah lokal lebih menekankan struktur daripada prosesnya.
3) Sejarah lokal hanya membicarakan peristiwa tertentu yang dianggap terkenal di
suatu daerah.
4) Sejarah lokal hanya membahas aspek tertentu saja.
Tugas
Carilah dari bermacam-macam sumber contoh-contoh par-excellen yang lain, baik dari negeri sendiri
atau dari negeri orang. Buatlah rangkuman kisah hidupnya pada kertas folio dan
kumpulkan pada guru!

Sumber : Cakrawala Sejarah SMA/MA Kelas X

Pengertian Sumber, Bukti, dan Fakta Sejarah


1. Sumber sejarah

Sejarah dimulai dari cerita-cerita rakyat atau legenda yang mampu mengungkapkan peristiwa pada masa lampau, meskipun penuh dengan bermacam-macam mitos yang wajib diteliti lebih lanjut agar dapat digunakan sebagai sumber sejarah. Masyarakat dahulu memang memberikan informasi sejarah secara turun temurun dan mereka menganggap benar apa yang sudah mereka terima dari nenek moyangnya yang terpancar dari peninggalan- peninggalan di sekitar tempat tinggalnya. Oleh sebab itu, untuk mengungkapkan kembali tidak mungkin dilakukan tanpa sumber yang memadai, maknanya sumber yang mendukung sehingga mampu mendekati kebenaran suatu peristiwa sejarah.

Sumber sejarah adalah semua yang menjadi pokok sejarah. Menurut Moh. Ali, yang dimaksud sumber sejarah adalah segala sesuatu yang berwujud dan tidak berwujud serta berguna untuk penelitian sejarah sejak zaman purba sampai sekarang. Sementara Muh. Yamin mengatakan bahwa sumber sejarah adalah kumpulan benda kebudayaan untuk membuktikan sejarah.

Konsep dan Aktualita

Menentukan usia peninggalan sejarah dapat dilakukan dengan tiga cara berikut.

  1. Tipologi adalah cara penentuan usia peninggalan budaya berdasar bentuk tipe dari peninggalan itu. Makin sederhana bentuk peninggalan, makin tua usia benda. Namun dengan cara ini seringkali timbul masalah sebab benda yang sederhana belum tentu dibuat lebih dahulu dari benda yang lebih halus dan sempurna buatannya. Contohnya, benda dari tanah liat pada saat ini digunakan bersama-sama dengan benda dari logam dan plastik.
  2. Stratigrafi adalah cara penentuan umur suatu benda peninggalan berdasar lapisan tanah di mana benda itu berasal/ditemukan. Semakin ke bawah lapisan tanah tempat penemuan benda peninggalan budaya, semakin tua usianya sehingga dapat disimpulkan bahwa lapisan paling atas adalah paling muda.
  3. Kimiawi adalah suatu cara penentuan umur benda peninggalan berdasar unsur kimia yang dikandung oleh benda itu, misalnya, unsur C-14 (Carbon 14) atau unsur Argon. Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah

Ada tiga macam sumber sejarah.

a. Sumber tertulis
Sumber tertulis adalah sumber sejarah yang diperoleh melalui peninggalan-peninggalan tertulis, notulen peristiwa yang terjadi di masa lampau, misalnya prasasti, dokumen, naskah, piagam, babad, surat kabar, tambo (catatan tahunan dari Cina), dan rekaman. Sumber tertulis dibedakan menjadi dua, yaitu sumber primer (dokumen) dan sumber sekunder (buku perpustakaan).

b. Sumber lisan
Sumber lisan adalah keterangan langsung dari para pelaku atau saksi mata dari peristiwa yang terjadi di masa lampau. Misalnya, seorang anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yang pernah ikut Serangan Umum menceritakan peristiwa yang dialami kepada orang lain, apa yang dialami dan dilihat serta yang dilakukannya adalah penuturan lisan (sumber lisan) yang dapat digunakan untuk bahan penelitian sejarah. Dapat juga berupa penuturan masyarakat di sekitar kota Yogyakarta saat 1 Maret 1949 yang ikut menyaksikan Serangan Umum itu, penuturannya juga dapat dikategorikan sebagai sumber lisan. Jika sumber lisan berupa cerita rakyat (folklore), maka perlu dicermati kebenarannya sebab penuh dengan bermacam-macam mitos.

c. Sumber benda 
 Pengertian Sejarah Sumber Sejarah, Bukti Sejarah, dan Fakta SejarahSumber benda adalah sumber sejarah yang diperoleh dari peninggalan benda- benda kebudayaan, misalnya, alat-alat atau benda budaya, seperti kapak, gerabah, perhiasan, manik-manik, candi, dan patung. Sumber-sumber sejarah itu belum tentu seluruhnya dapat menginformasikan kebenaran secara pasti. Oleh sebab itu, sumber sejarah itu perlu diteliti, dikaji, dianalisis, dan ditafsirkan dengan cermat oleh para ahli. Untuk mengungkap sumber-sumber sejarah di atas diperlukan berbagai ilmu bantu, seperti:

  • epigrafi, yaitu ilmu yang mempelajari tulisan kuno atau prasasti;
  • arkeologi, yaitu ilmu yang mempelajari benda/peninggalan kuno;
  • ikonografi, yaitu ilmu yang mempelajari mengenai patung;
  • nomismatik, yaitu ilmu yang mempelajari mengenai mata uang;
  • ceramologi, yaitu ilmu yang mempelajari mengenai keramik;
  • geologi, yaitu ilmu yang mempelajari lapisan bumi;
  • antropologi, yaitu ilmu yang mempelajari asal-usul kejadian serta perkembangan makhluk manusia dan kebudayaannya;
  • paleontologi, yaitu ilmu yang mempelajari sisa makhluk hidup yang sudah membatu;
  • paleoantropologi, yaitu ilmu yang mempelajari bentuk manusia yang paling sederhana hingga sekarang;
  • sosiologi, yaitu ilmu yang mempelajari sifat keadaan dan pertumbuhan masyarakat;
  • filologi, yaitu ilmu yang mempelajari mengenai bahasa, kebudayaan, pranata dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat di bahan-bahan tertulis.


2. Bukti dan fakta sejarah

Sejarah suatu masyarakat dan bangsa di masa lampau dapat diketahui melalui penemuan bukti atau fakta (kata fakta berasal dari bahasa Latin, factus atau facerel, yang artinya selesai atau mengerjakan). Fakta menunjukkan terjadinya suatu peristiwa di masa lampau.

Bukti peninggalan sejarah adalah sumber penulisan sejarah. Fakta adalah hasil dari seleksi data yang terpilih. Fakta sejarah ada yang berbentuk benda konkret, misalnya, candi, patung, perkakas yang sering disebut artefak. Fakta yang berdimensi sosial disebut sociofact, yaitu berupa jaringan interaksi antarmanusia, sedangkan fakta yang bersifat abstrak berupa keyakinan dan kepercayaan disebut mentifact. Bukti dan fakta sejarah dapat diketahui melalui sumber primer dan sumber sekunder.

a. Artefak

Artefak adalah semua benda baik secara keseluruhan atau sebagian hasil garapan tangan manusia, contohnya, candi, patung, dan perkakas. Peralatan- peralatan yang dihasilkannya dapat menggambarkan tingkat kehidupan masyarakat pada saat itu (sudah memiliki akal dan budaya yang cukup tinggi), Sumber: Indonesian Heritage, Ancient History bahkan dapat juga meggambarkan kepercayaan para penciptanya dari suatu masyarakat, hal inilah yang perlu dicermati oleh para sejarawan. Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah

b. Fakta sosial

Fakta sosial adalah fakta sejarah yang berdimensi sosial, yakni kondisi yang mampu menggambarkan mengenai keadaan sosial, suasana zaman dan sistem kemasyarakatan, misalnya interaksi (hubungan) antarmanusia, contoh pakaian adat, atau pakaian kebesaran raja. Jadi fakta sosial sehubungan dengan kehidupan suatu masyarakat, kelompok masyarakat atau suatu negara yang menumbuhkan hubungan sosial yang harmonis serta komunikasi sosial yang terjaga baik. Fakta sosial sebagai bukti sosial yang muncul di lingkungan masyarakat mampu memunculkan suatu peristiwa atau kejadian. Masyarakat pembuat logam memunculkan ciri sosial yang maju, berintegritas, dan mengenal teknik. Di balik itu mereka mempunyai tradisi animisme atau dinamisme melalui benda hasil garapannya, bahkan jika kita cermat dengan saksama masyarakat itu sudah mengenal persawahan dan hidup dengan ciri gotong royong.

c. Fakta mental

Fakta mental adalah kondisi yang dapat menggambarkan suasana pikiran, perasaan batin, kerohanian dan sikap yang mendasari suatu karya cipta. Jadi fakta mental bertalian dengan perilaku, ataupun tindakan moral manusia yang mampu menentukan baik buruknya kehidupan manusia, masyarakat, dan negara. Peristiwa yang terjadi pada masa lampau dapat memengaruhi mental kehidupan pada masa kini bahkan ke masa depan. Fakta mental erat hubungannya antara peristiwa yang terjadi dengan batin manusia, sebab perkembangan batin pada suatu masyarakat dapat mencetuskan munculnya suatu peristiwa (ingat peristiwa bom atom di kota Nagasaki dan Hirosima di Jepang yang menyisakan perubahan watak dan rasa takut, itu sebabnya Jepang memelopori kampanye anti bom atom).

Fakta mental adalah fakta yang sifatnya abstrak atau kondisi yang menggambarkan alam pikiran, kepercayaan atau sikap, misalnya kepercayaan keyakinan dan kepercayaan benda yang melambangkan nenek moyang dan benda upacara, contohnya nekara perunggu di Pejeng (Bali), untuk dipuja. Namun ada artefak yang juga menunjukkan fakta sosial dan ciri fakta fakta konkret, tetapi jika dilihat dari hiasannya dapat berfungsi sebagai fakta sosial, dan jika menempatkan kapak perunggu dan bejana perunggu sebagai sistem kepercayaan maka disebut fakta mental.

Sumber : Cakrawala Sejarah SMA/MA Kelas X

Langkah-Langkah dalam Penelitian Sejarah (Heuristik, Verifikasi, Interpretasi, dan Historiografi)


1. Heuristik 

Heuristik berasal dari kata Yunani, heuriskein, maknanya menemukan. Heuristik, maksudnya adalah tahap untuk mencari, menemukan, dan mengumpulkan sumber-sumber berbagai data agar dapat mengetahui segala bentuk peristiwa atau kejadian sejarah masa lampau yang relevan dengan topik/judul penelitian.

Untuk melacak sumber itu, sejarawan wajib dapat mencari di bermacam-macam dokumen baik melalui metode kepustakaan atau arsip nasional. Sejarawan dapat juga mengunjungi situs sejarah atau melaksanakan wawancara untuk melengkapi data sehingga diperoleh data yang baik dan lengkap, serta dapat menunjang terwujudnya sejarah yang mendekati kebenaran. Masa lampau yang begitu banyak periode dan banyak bagian-bagiannya (seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya) mempunyai sumber data yang juga beraneka ragam sehingga perlu adanya klasifikasi data dari banyaknya sumber itu.

Bagan Tahap-Tahap Penelitian Sejarah
Langkah-Langkah dalam Penelitian Sejarah (Heuristik, Verifikasi, Interpretasi, dan Historiografi)

Dokumen-dokumen yang berhasil dihimpun adalah data yang sangat berharga Dokumen dapat menjadi dasar untuk menelusuri peristiwa-peristiwa sejarah yang sudah terjadi pada masa lampau. Menurut sifatnya ada dua, yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer adalah sumber yang dibuat pada saat peristiwa terjadi, seperti dokumen laporan kolonial. Sumber primer dibuat oleh tangan pertama, sementara sumber sekunder adalah sumber yang menggunakan sumber primer sebagai sumber utamanya. Jadi, dibuat oleh tangan atau pihak kedua. Contohnya, buku, skripsi, dan tesis.

Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah

Jika kita mendapatkan sumber tertulis, kita akan mendapatkan sumber tertulis sezaman dan setempat yang mempunyai kadar kebenaran yang relatif tinggi, serta sumber tertulis tidak sezaman dan tidak setempat yang memerlukan kejelian para penelitinya. Dari sumber yang ditemukan itu, sejarawan melaksanakan penelitian. Tanpa adanya sumber sejarah, sejarawan akan mengalami kesulitan menemukan jejak-jejak sejarah dalam kehidupan manusia. Untuk sumber lisan, pemilihan sumber didasarkan pada pelaku atau saksi mata suatu kejadian. Narasumber lisan yang hanya mendengar atau tidak hidup sezaman dengan peristiwa tidak bisa dijadikan narasumber lisan.

2. Verifikasi

Verifikasi adalah penilaian pada sumber-sumber sejarah. Verifikasi dalam sejarah memiliki arti pemeriksaan pada kebenaran laporan mengenai suatu peristiwa sejarah. Penilaian pada sumber-sumber sejarah menyangkut aspek ekstern dan intern. Aspek ekstern mempersoalkan apakah sumber itu asli atau palsu sehingga sejarawan harus mampu menguji mengenai keakuratan dokumen sejarah itu, misalnya, waktu pembuatan dokumen, bahan, atau materi dokumen. Aspek intern mempersoalkan apakah isi yang terdapat dalam sumber itu dapat memberikan informasi yang diperlukan. Dalam hal ini, aspek intern berupa proses analisis pada suatu dokumen.

Aspek ekstern wajib dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

a. Apakah sumber itu adalah sumber yang dikehendaki (autentitas)?
b. Apakah sumber itu asli atau turunan (orisinalitas)?
c. Apakah sumber itu masih utuh atau sudah diubah (soal integritas)?

Setelah ada kepastian bahwa sumber itu merupakan sumber yang benar diperlukan dalam bentuk asli dan masih utuh, maka dilakukan kritik intern. Kritik intern dilakukan untuk membuktikan bahwa informasi yang terkandung di dalam sumber itu dapat dipercaya, dengan penilaian intrinsik terhadap sumber dan dengan membandingkan kesaksian- kesaksian bermacam-macam sumber.

Langkah pertama dalam penelitian intrinsik adalah menentukan sifat sumber itu (apakah resmi/formal atau tidak resmi/informal). Dalam penelitian sejarah, sumber tidak resmi/informal dinilai lebih berharga daripada sumber resmi sebab sumber tidak resmi bukan dimaksudkan untuk dibaca orang banyak (untuk kalangan bebas) sehingga isinya bersifat apa adanya, terus terang, tidak banyak yang disembunyikan, dan objektif.

Langkah kedua dalam penilaian intrinsik adalah menyoroti penulis sumber itu sebab ia yang memberikan informasi yang dibutuhkan. Pembuatan sumber harus dipastikan bahwa kesaksiannya dapat dipercaya. Untuk itu, wajib mampu memberikan kesaksian yang benar dan wajib dapat menjelaskan mengapa dia menutupi (merahasiakan) suatu peristiwa, atau sebaliknya melebih-lebihkan sebab ia berkepentingan di dalamnya.

Langkah ketiga dalam penelitian intrinsik adalah membandingkan kesaksian dari berbagai sumber dengan menjajarkan kesaksian para saksi yang tidak berhubungan satu dan yang lain (independent witness) sehingga informasi yang diperoleh objektif. Contohnya adalah terjadinya peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Konsep dan Aktualita

Ada perdebatan mengenai siapa tokoh penggagas Serangan Umum itu sebenarnya. Ada tiga penafsiran atau pendapat tentang hal ini.

  1. Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebab beliau adalah penguasa kerajaan yang berwenang mengadakan serangan.
  2. Jenderal Soedirman yang berhasil menghimpun kembali kekuatan TNI yang berwenang mengadakan Serangan Umum.
  3. Letkol. Soeharto sebagai Komandan Brigade X kota Yogyakarta yang berinisiatif melancarkan Serangan Umum untuk membuktikan kekuatan TNI.


Menurut strategi dalam Serangan Umum 1 Maret 1949, kita mengetahui bahwa sektor barat di bawah pimpinan Vence Sumual dan Letkol Soeharto, sektor utara di bawah pimpinan Mayor Kusno, sektor selatan dan timur di bawah pimpinan Mayor Sarjono, serta sektor kota di bawah pimpinan Letnan Masduki dan Amir Murtono. Serangan Umum 1 Maret memiliki arti penting, yaitu mendukung perjuangan diplomasi, meninggikan moral rakyat dan TNI yang sedang bergerilya, menunjukkan kepada dunia internasional bahwa TNI masih ada dan mampu untuk melawan penjajah, serta untuk mematahkan moral Belanda.

Sumber-sumber yang diakui kebenarannya lewat verifikasi atau kritik, baik intern atau ekstern, menjadi fakta. Fakta adalah keterangan mengenai sumber yang dianggap benar oleh sejarawan atau peneliti sejarah. Fakta bisa saja diartikan sebagai sumber- sumber yang terpilih.

3. Interpretasi

Interpretasi adalah menafsirkan fakta sejarah dan merangkai fakta itu menjadi satu kesatuan yang harmonis dan masuk akal. Interpretasi dalam sejarah dapat juga diartikan sebagai penafsiran suatu peristiwa atau memberikan pandangan teoritis terhadap suatu peristiwa. Sejarah sebagai suatu peristiwa dapat diungkap kembali oleh para sejarawan melalui bermacam-macam sumber, baik berbentuk data, dokumen perpustakaan, buku, berkunjung ke situs-situs sejarah atau wawancara, sehingga dapat terkumpul dan mendukung dalam proses interpretasi.

Dengan demikian, setelah kritik selesai maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan interpretasi atau penafsiran dan analisis terhadap data yang diperoleh dari bermacam-macam sumber.

Prinsip-Prinsip Dasar Penelitian Sejarah Interpretasi dalam sejarah adalah penafsiran pada suatu peristiwa, fakta sejarah, dan merangkai suatu fakta dalam kesatuan yang masuk akal. Penafsiran fakta harus bersifat logis pada keseluruhan konteks peristiwa sehingga bermacam-macam fakta yang lepas satu sama lainnya dapat disusun dan dihu-bungkan menjadi satu kesatuan yang masuk akal.

Bagi kalangan akademis, agar dapat menginterpretasi fakta dengan kejelasan yang objektif, wajib dihindari penafsiran yang semena-mena sebab biasanya cenderung bersifat subjektif. Selain itu, interpretasi wajib bersifat deskriptif sehingga para akademisi juga dituntut untuk mencari landasan interpretasi yang mereka gunakan. Proses interpretasi juga wajib bersifat selektif sebab tidak mungkin semua fakta dimasukkan ke dalam cerita sejarah, sehingga wajib dipilih yang relevan dengan topik yang ada dan mendukung kebenaran sejarah.

4. Historiografi

Historiografi adalah penulisan sejarah. Historiografi adalah tahap terakhir dari kegiatan penelitian untuk penulisan sejarah. Menulis kisah sejarah bukanlah sekadar menyusun dan merangkai fakta-fakta hasil penelitian, melainkan juga menyampaikan suatu pikiran melalui interpretasi sejarah berdasar fakta hasil penelitian. Untuk itu, menulis sejarah memerlukan kecakapan dan kemahiran. Historiografi adalah rekaman tentang segala sesuatu yang dicatat sebagai bahan pelajaran mengenai perilaku baik. Sesudah menentukan judul, mengumpulkan bahan-bahan atau sumber serta melakukan kritik dan seleksi, maka mulailah menuliskan kisah sejarah.

Sekilas Tokoh

Abdurrahman Surjomihardjo

Sejarawan Indonesia, ahli peneliti Lembaga Riset Kebudayaan Nasional (LRKN) – LIPI yang produktif menghasilkan karya tulis. Abdurrahman lahir di Tegal Jawa Tengah, alumnus Fakultas Sastra Indonesia tahun 1361 ini memiliki karier yang bervariasi. Dia pernah menjadi pegawai Kantor Sosial Kabupaten Bekasi (1950 – 1953), dosen luar biasa Fakultas Sastra UI (1964 – 1980), Staf Lembaga Riset Kehidupan Nasional, MIPI – LIPI (1964 – 1974), Staf Peneliti Leknas LIPI (1974 – 1982), dan ahli peneliti LRKN – LIPI. Dia menulis sejumlah buku, di antaranya, Sejarah Perkembangan Kota Jakarta (1977), Pembinaan Bangsa dan Masalah Historiografi (1979), Budi Utomo Cabang Betawi (1980), dan Ilmu Sejarah dan Historiografi (editor bersama Taufik Abdullah, 1985).

Ada tiga bentuk penulisan sejarah berdasarkan ruang dan waktu.

a. Penulisan sejarah tradisional Indonesia
Kebanyakan karya ini kuat dalam hal genealogi, tetapi tidak kuat dalam hal kronologi dan detail biografis. Tekanannya penggunaan sejarah sebagai bahan pengajaran agama. Adanya kingship (konsep tentang raja), pertimbangan kosmologis, dan antropologis lebih diutamakan daripada keterangan dari sebab dan akibat.

b. Penulisan sejarah kolonial
Penulisan ini mempunyai ciri nederlandosentris (eropasentris), tekanannya pada aspek politik dan ekonomi serta bersifat institusional.

c. Penulisan sejarah nasional Penulisannya menggunakan metode ilmiah secara terampil dan memiliki tujuan untuk kepentingan nasionalisme.
Menurut Taufik Abdullah dan Surjomihardjo, ada tiga penulisan sejarah di Indonesia, yaitu sejarah ideologis, sejarah pewarisan, dan sejarah akademik.

Tugas

Carilah contoh penulisan sejarah tradisional, kolonial, dan nasional dari bermacam-macam sumber. Tuliskan pada kertas folio dan kumpulkan pada guru!

Sumber : Cakrawala Sejarah SMA/MA Kelas X

Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Aksara



1. Masyarakat Indonesia masa aksara
a. Perkembangan sejarah setelah mengenal aksara
Kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia dari Yunan ke Nusantara yang
melewati jalan barat (melewati Yunan – Malaka – Sumatra – Jawa), serta yang
melewati jalur utara Yunan – Formosa – Jepang – Sulawesi Utara dan sampai di Irian/
Papua ternyata membawa pengaruh besar pada perkembangan sejarah kehidupan
bangsa Indonesia. Adanya beraneka ragam budaya daerah yang muncul di tengah-
tengah perkembangan masyarakat yang masih dapat dirasakan oleh masyarakat
nusantara pada masa kini.
Bangsa Deutero Melayu yang datang 500 SM ke Nusantara ternyata membawa
pengaruh yang lebih maju daripada pendahulunya. Mereka melalui jalan barat, yakni
Yunan – Malaka – Sumatra – Jawa. Mereka hidup di Nusantara dan berkembang
sebagai masyarakat yang produktif serta menjadi bangsa Indonesia sampai sekarang.
Masyarakat Deutero Melayu yang sudah berkembang menjadi bangsa Indonesia itu telah
memiliki kemajuan di bermacam-macam bidang, antara lain, sebagai berikut.
1) Dalam bidang pemerintahan, mereka menganut asas demokrasi melalui musyawarah
untuk menentukan pimpinan mereka, bentuk organisasi kemasyarakatan yang ada
adalah kesukuan. Kepala suku dipilih dari orang yang mempunyai kemampuan
tertinggi (primus inter pares).
30

2) Dalam bidang ekonomi, usaha untuk memenuhi kebutuhan diupayakan dengan
menggunakan ekonomi barang (pertukaran/barter), hidup gotong royong dalam
mengerjakan sawah, berkelompok, dan semua hak milik digunakan bersama.
3) Kepercayaan nenek moyang kita adalah animisme dan dinamisme.
Keadaan alam Nusantara memaksa mereka wajib pandai berlayar sebab Nusantara
terdiri atas kawasan kepulauan serta adanya tuntutan kebutuhan untuk saling mencukupi.
Akhirnya, muncul perdagangan antarpulau dan berkembang menjadi perdagangan
antarnegara. Pelayaran lintas laut sudah membawa bangsa Indonesia mampu mengarungi
lautan internasional sehingga terciptalah hubungan dagang yang maju, yang melibatkan
kawasan Nusantara. Kita ketahui bahwa kemajuan pelayaran perdagangan antara Cina
– India yang melewati kawasan Nusantara menyebabkan terjalinnya perdagangan di
Nusantara juga, namun pengaruh India di Nusantara jauh lebih besar. Pengaruh India
yang masuk ke Nusantara membawa perkembangan untuk kemajuan hidup masyarakat
di Nusantara pada saat itu dan berkembang sampai sekarang, misalnya, dalam bidang
pemerintahan, budaya, sosial, dan kepercayaan.
1) Dalam bidang pemerintahan
Masyarakat Nusantara yang hidup secara berkelompok di masa lalu, ternyata
mampu berkembang secara bergerak maju dengan bentuk kesukuan. Kontak dengan India
ternyata membawa pengaruh positif dalam kehidupan masyarakat terutama dalam
pemerintahan. Masyarakat Nusantara yang semula berbentuk kesukuan, dengan
masuknya pengaruh hinduisme ke dalam masyarakat, mengubah bentuk
pemerintahannya menjadi bentuk kerajaan.
Kekuasaan raja diberikan secara turun
temurun dan tidak dipilih rakyat sehingga
rakyat menerima saja. Namun, raja yang
lemah pasti segera jatuh digantikan raja
yang lebih bijaksana atau lebih kuat.
2) Dalam bidang budaya
Kita mengetahui bahwa masuknya
Sumber: Indonesian Heritage, Seri Pertunjukan
budaya India ke Nusantara ternyata memberi Gambar 2.14 Salah satu relief Ramayana di candi
Prambanan
semangat bangsa Indonesia untuk berkarya
lebih bagus dan terarah. Bahkan para raja dan penguasa mulai menuliskan perintah
melalui prasasti. Hasil karya budaya Nusantara yang mengagumkan dan memiliki
seni tinggi, misalnya, candi Borobudur yang menjadi kebanggaan dunia dan
relief pada dinding candi yang melebihi kehebatan orang India. Misalnya, relief
Ramayana pada candi Prambanan. Begitu juga munculnya seni sastra yang dihasilkan
oleh sastrawan Nusantara seperti cerita Mahabharata dan Ramayana versi
Nusantara kitab Gatotkacasraya yang sudah memuat unsur javanisasi.
Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan ....
31
3) Dalam bidang sosial
Pranata sosial di zaman Indonesia-Hindu sudah teratur, sudah ada desa sebagai
satu kelompok masyarakat. Penerapan ketentuan untuk membina masyarakat sudah
ada, kehidupan masyarakatnya bersifat gotong royong.
4) Dalam kepercayaan
Nenek moyang yang sudah mempunyai kepercayaan asli (animisme, dinamisme)
mulai mengenal agama Hindu dan Buddha. Sehingga, walaupun telah menyembah
Dewa Hindu atau Buddha, mereka tetap bersesaji untuk memuja roh (sesuai
keyakinan animisme dan dinamisme).
b. Perkembangan rekaman tertulis
Jejak-jejak masa lampau menjadi bahan penting untuk menuliskan kembali sejarah
umat manusia. Jejak masa lampau mengandung informasi yang dapat dijadikan bahan
penulisan sejarah. Masa lampau yang hanya meninggalkan jejak-jejak sejarah itu
menjadi komponen penting dan mengandung informasi yang dapat dijadikan bahan
untuk penulisan sejarah.
Kisah sejarah itu disampaikan dari generasi ke generasi dan bisa dipelihara
terus sehingga mampu untuk mengisahkan kembali peristiwa dari jejak-jejak pada masa
lampau.
Jejak sejarah dapat dibedakan menjadi dua.
1) Jejak historis, yaitu jejak sejarah yang menurut sejarawan mempunyai atau mengandung
informasi mengenai kejadian-kejadian yang historis sehingga dapat digunakan untuk
menyusun penulisan sejarah.
2) Jejak nonhistoris, yaitu suatu kejadian pada masa lampau yang tidak mempunyai nilai
sejarah.
Jejak historis yang berwujud tulisan adalah rekaman tertulis tradisi masyarakat
pada masa lalu. Rekaman tertulis di Indonesia terbagi menjadi sumber tertulis sezaman
dan setempat, sumber tertulis sezaman tetapi tidak setempat, dan sumber tertulis
setempat tidak sezaman.
1) Sumber tertulis sezaman dan setempat
Sumber tertulis sezaman ialah
sumber itu ditulis oleh orang
yang mengalami peristiwa itu, atau
ditulis saat itu, atau ditulis tidak
lama setelah peristiwa itu terjadi.
Sumber setempat maksudnya adalah
penulisannya di dalam negeri sendiri.
Contoh sumber tertulis sezaman dan
setempat adalah prasasti. Prasasti
Sumber: Indonesian Heritage, Ancient History
Gambar 2.15 Prasasti Ciaruteun dituliskan di atas
batu kali
32

berarti pengumuman atau proklamasi, semacam perundang-undangan yang memuji
raja, dan biasanya berbentuk puisi atau bahasa puisi. Dalam istilah bahasa Inggris
disebut enloggistie. Istilah lain untuk prasasti adalah inscriptie atau piagam. Ilmu
yang mempelajari mengenai prasasti disebut epigraphy.
Prasasti ada yang terbuat dari batu (disebut Caila Prasasti), dari logam, atau
dari batu bata. Wujud prasasti yang berupa batu (Caila Prasasti) terdiri atas:
a) batu biasa (batu kali) disebut natural stone;
b) batu lingga (batu lambang Siwa);
c) pseudo lingga (lingga semu), biasanya berupa batu patok atau batu pembatas;
d) batu yoni (lambang isteri Siwa), biasanya juga disebut lambang wanita.
Adapun prasasti dari logam terbuat dari tembaga, perunggu, atau emas.
Prasasti dari perunggu, misalnya, prasasti dari Airlangga, yakni prasasti Calcutta.
Prasasti yang berupa batu bata juga disebut Terra Cotta. Prasasti dari batu bata ini
di Indonesia hanya sedikit sekali kita dapatkan. Contohnya adalah prasasti di candi
Sentul.
Berdasarkan bahasa yang digunakan, prasasti dibedakan menjadi empat.
a) Prasasti berbahasa Sanskerta, misalnya, prasasti Kutai, prasasti Tarumanegara,
prasasti Tuk Mas, prasasti Canggal (sumber sejarah Mataram Hindu), Ratu
Boko, Kalasan, Kelurak, Plumpungan, dan Dinoyo.
b) Prasasti perpaduan bahasa antara Jawa Kuno dengan Sanskerta, misalnya,
prasasti Kedu, prasasti Randusari I dan II, dan prasasti Trowulan I, II, III, IV.
c) Prasasti perpaduan bahasa Melayu Kuno dengan Sanskerta, misalnya prasasti
Kota Kapur di Sriwijaya, prasasti Gondosuli, prasasti Dieng, dan prasasti
Sajomerto (Pekalongan).
d) Prasasti perpaduan bahasa Bali Kuno dengan Sanskerta.
Prasasti Bali Kuno kebanyakan terdapat di pura atau candi. Prasasti ini
dianggap benda suci sehingga hanya diperlihatkan pada waktu upacara oleh para
pedande (pendeta). Prasasti di Bali pada biasanya berisi Raja Casana atau
peraturan dari raja. Pura yang terkenal di Bali, misalnya, Bangli, Kintamani, dan
Sembiran. Ahli prasasti Bali adalah R. Goris. Beliau mentranskrip prasasti Bali. Di
Bali, prasasti yang sudah rusak, hurufnya
diduplikasikan kembali dengan istilah "tinulat".
Ada keanehan pada prasasti Tugu Sanur.
Tinggi prasasti adalah 1 m, bentuknya agak
silinder, tetapi tulisannya sudah rusak. Prasasti
ini mempunyai keistimewaan menggunakan huruf
Pranagari menggunakan bahasa Bali Kuno,
sedangkan yang menggunakan huruf Bali
Sumber: Seri Indonesia Indah "Aksara"
Kuno menggunakan Bahasa Sanskerta. Gambar 2.16 Cetakan kertas dari prasasti
tembaga Sembiran, Buleleng, Bali.
Artinya, prasasti Tugu Sanur ditulis dengan
menggunakan dua bahasa (bilingual).
Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan ....
33
Secara umum isi prasasti memuat beberapa bagian, antara lain, sebagai berikut.
a) Penghormatan kepada dewa dalam agama Hindu biasanya diawali dengan kata
Ong Civaya,sedangkan agama Buddha diawali dengan kata Ong nama Buddhaya.
b) Angka tahun dan penanggalan, dalam penulisannya biasanya diawali dengan
permulaan kata-kata: "Swasti Cri Cakawarsatita" yang berarti Selamat Tahun
Caka yang sudah berjalan. Penamaan hari dalam satu minggu (tujuh hari) terdiri
dari: Raditya (Minggu), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buddha (Rabu),
Respati (Kamis), Cakra (Jumat), dan Sanaiswara (Sabtu).
c) Menyebut nama raja, diawali dengan kata-kata "Tatkala Cri Maharaja Rakai
Dyah ..." dan selanjutnya.
d) Perintah kepada pegawai tinggi, perintah ini biasanya melalui Rakryan Mahapatih
dengan istilah "Umingsor ring rakryan Mahapatih ...", jadi raja tidak memberi
perintah langsung.
e) Penetapan daerah sima (daerah bebas pajak), yang sudah menolong raja atau
menolong orang penting atau sudah menolong rakyat banyak, misalnya, daerah
penyeberangan sungai.
f) Sambhada (sebab musabab mengapa suatu daerah dijadikan sima).
g) Para saksi.
h) Desa perbatasan sima juga disebut "wanua tpisiring".
i) Hadiah yang diberikan oleh daerah yang dijadikan sima kepada raja, kepada
pendeta, dan para saksi. Jika berupa uang, ukurannya adalah Su, berarti suwarna
atau emas. Ma berarti masa dan Ku berarti kupang (1 su = 16 Ma = 64 Ku atau
1 Su = 1 tail = 2 real), demikianlah ukuran uangnya.
j) Jalannya upacara.
k) Tontonan yang diadakan.
l) Kutukan (sumpah serapah kepada orang yang melanggar peraturan daerah
sima).
Pada zaman Islam di Indonesia masih terdapat prasasti, yakni dari zaman
Sultan Agung Mataram, antara lain, ditemukan di Jawa Barat berupa tembaga di
desa Kandang Sapi atau Tegalwarna daerah Karawang. Prasasti ini menggunakan
bahasa Jawa Tengahan, isinya daerah Sumedang dijadikan sima sebab menjaga
lumbung padi.
Amangkurat I dari Mataram juga mengeluarkan prasasti di dekat Parangtritis
pada sebuah gua. Prasasti ini dibuat Amangkurat waktu melarikan diri karena
diserang Trunojoyo. Di situ terdapat Condro Sengkolo "Toya ingasto gono Batara"
(toya = 4, asto = 2, gana = 6, Batara = 1) sama dengan 1624 tahun Jawa.
2) Sumber tertulis sezaman tetapi tidak setempat
Sumber ini dimaksudkan ditulis sezaman, tetapi ditulis di luar negeri. Sumber
ini biasanya tidak begitu jelas, kebanyakan berasal dari Tiongkok, Arab, Spanyol,
dan India. Misalnya, kitab Ling Wai Taita karangan Chou Ku Fei pada tahun 1178.
34

Buku ini menggambarkan kehidupan tata pemerintahan, keadaan istana, dan
benteng Kerajaan Kediri. Juga menceritakan kehidupan bangsawan pada saat itu
yang memakai sepatu kulit, perhiasan emas, pakaian sutra, dan menunggang gajah
atau kereta, serta pesta air dan perayaan di gunung untuk rakyat. Kitab Chu Fang Chi
ditulis Chau Ju Kua pada abad ke-13, menceritakan di Asia Tenggara tumbuh dua
kerajaan besar dan kaya, yaitu di Jawa dan Sriwijaya. Sumber lain adalah tambo
dinasti Tang dari Cina yang memuat mengenai Holing dan Sriwijaya serta tambo
dinasti Ming yang membicarakan kemajuan perdagangan zaman Majapahit. Berita
Fa Hsien menyebut Tarumanegara atau Jawa dengan sebutan Yepoti dalam
bukunya Fo Kwa Chi. Musafir I-Tsing yang pernah datang di Indonesia (di
Sriwijaya dan belajar di sana) mengatakan bahwa Sriwijaya maju perdagangannya.
Kemudian Hwining dalam perjalanannya singgah di Holing dan bekerja sama
dengan Jnanabhadra untuk menerjemahkan kitab Hastadandasastra dalam bahasa
Sanskerta (mereka berada di Holing selama tiga tahun). Selain itu, banyak juga
catatan dari Arab, Spanyol, India, dan Belanda.
3) Sumber tertulis setempat tidak sezaman
Sumber ini ditulis lama sesudah peris-
tiwa terjadi, mungkin sudah berdasarkan
cerita dari mulut ke mulut atau berdasar
cerita rakyat. Misalnya, buku Babad
Tanah Jawi dan kitab Pararaton (walau-
pun ada babad sezaman, tetapi tidak
banyak).
Sumber: Seri Indonesia Indah "Aksara"
Gambar 2.17 Buku Babad Tanah Jawi, karangan
Raden Panji Sastrominarso tahun 1886
Konsep dan Aktualita
Sebagai salah satu sumber penulisan sejarah, sumber sejarah tertulis menggunakan beberapa material untuk
media penulisannya. Media-media penulisan itu bergantung pada zaman atau tingkat kemajuan budaya
saat itu.
Material-material yang digunakan untuk media penulisan, antara lain, sebagai berikut.
a.
b.
c.
d.
Bata/tanah liat, misalnya, yang ditemukan di Bugis, Makassar.
Batu, misalnya, prasasti Kutai.
Lempeng tembaga, misalnya, prasasti Watukura, berangka tahun 962 M, ditemukan di Belitung.
Perunggu, misalnya, tulisan yang ditemukan di genta perunggu, bergaya Kediri, Jawa Timur (+ abad
XI – XII M).
Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan ....
35
e. Daun lontar, misalnya, kakawin karya Empu
Kanwa.
f. Daun nipah, misalnya, naskah Raja Dewata (abad
XVI), berhuruf dan berbahasa Sunda Kuno.
g. Kulit kayu, misalnya, Pustaha (buku Batak).
h. Kayu, misalnya, prasasti Kayu Jati dari Indramayu,
Media dari nipah
Media dari kayu jati
berhuruf Cacarakan berbahasa Cirebon Kuno.
i. Tulang, misalnya, yang ditemukan di Sumatra,
beraksara Batak, tertulis pada semacam tabung
obat dari tulang.
j. Bambu, misalnya, Warage Baduy, digunakan
Media dari tembaga
sebagai perangkat upacara adat.
Media dari bambu
k. Emas, misalnya, Kipas Upacara (Jongan) dari
Gambar 2.18 Contoh media penulisan prasasti
Kesultanan Riau-Lingga, berhuruf/bahasa Arab
(abad 19).
Sumber:
Seri Indonesia Indah "Aksara"
l. Daluwang/kertas saeh, terbuat dari kulit batang
pohon saeh (Broussonetia papyera).
m. Kertas, misalnya, pada buku Babad Tanah Jawi
karangan Raden Panji Sastrominarso (1886).
n. Kain, seperti kain Simbut Baduy. Corak yang diterapkan pada kain ini berupa simbol-simbol seperti
yang biasa terdapat pada waruga.
Tugas
Sebutkan dan klasifikasikan peninggalan-peninggalan sejarah yang termasuk jejak historis
dan jejak nonhistoris! Tulislah jawaban Anda pada selembar kertas dengan format berikut!
No.
Jejak Historis
Jejak Nonhistoris
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
2. Perkembangan penulisan sejarah di Indonesia
Penulisan kisah sejarah bukanlah sekadar menyusun dan merangkai fakta-fakta hasil
penelitian, melainkan juga menyampaikan pendirian dan pikiran melalui interpretasi
sejarah berdasar hasil penelitian. Dalam perkembangan selanjutnya penulisan sejarah
mengalami kemajuan, yaitu dengan munculnya gagasan baru dalam penulisan sejarah.
36

Setelah Indonesia merdeka sejarah sudah menjadi ilmu yang wajib dipelajari dan
diteliti kebenarannya dengan teori dan metode yang modern. Hal ini disebabkan oleh nation
building, yaitu sejarah nasional akan mewujudkan kristalisasi identitas bangsa, serta
membudayakan ilmu sejarah dalam masyarakat Indonesia yang menuntut pertumbuhan
rakyat, meningkatkan kesejahteraan sejarah mengenai perkembangan bangsa-bangsa.
Secara garis besar ada tiga jenis penulisan sejarah (historiografi) Indonesia.
a. Penulisan sejarah tradisional (historiografi tradisional)
Penulisan sejarah tradisional adalah penulisan sejarah yang dimulai dari zaman
Hindu sampai masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia. Penulisan sejarah pada
zaman ini berpusat pada masalah-masalah pemerintahan dari raja-raja yang berkuasa,
bersifat istanasentris yang mengedepankan keinginan dan kepentingan raja. Penulisan
sejarah di zaman Hindu-Buddha pada biasanya ditulis di prasasti dengan tujuan agar
generasi penerus dapat mengetahui peristiwa di zaman kerajaan pada masa dulu di mana
seorang raja memerintah, contoh kitab Arjunawiwaha zaman Erlangga, kitab Panji
zaman Kameswara, serta kitab Baratayuda dan Gatotkacasraya di zaman Kediri pada
masa Raja Jayabaya. Kitab Gatotkacasraya memuat unsur javanisasi, yakni mulai
muncul dewa asli Jawa, yaitu Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong).
Walaupun dari segi wajah kurang, tokoh ini bijak dan mempunyai kemampuan yang luar
biasa.
Sumber: Seri Indonesia Indah "Teater Boneka"
Gambar 2.19 Punakawan
Setelah agama Islam masuk ke Nusantara maka terjadi proses akulturasi kebudayaan
yang menghasilkan bentuk baru dalam penulisan sejarah. Bentuk penulisan itu adalah
mulai digunakannya kitab sebagai pengganti prasasti, contohnya, Babad Tanah Jawi
dan Babad Cirebon. Penulisan peristiwa yang terjadi pada masa raja-raja Islam ditulis
berdasarkan petunjuk raja untuk kepentingan kerajaan, misalkan kitab Bustanus
Salatina. Kitab ini menulis sejarah Aceh, juga berisi kehidupan politik pada masa Islam
di Aceh, kehidupan masyarakat, soal agama Islam, sosial, dan ekonomi.
Penulisan sejarah tradisional pada biasanya lebih menekankan pada beberapa hal
berikut.
1) Hanya membahas aspek tertentu, misalnya, hanya aspek keturunan (genealogi saja)
atau hanya diutamakan aspek kepercayaan (religius saja).
2) Hanya membicarakan peristiwa tertentu yang dianggap penting dan perlu ditanamkan
di tengah masyarakatnya untuk kepentingan istana belaka.
Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan ....
37
3) Mengedepankan sejarah keturunan dari satu raja kepada raja selanjutnya.
4) Sering sejarah tradisional hanya memuat biografi tokoh-tokoh terkemuka di masa
kekuasaannya.
5) Sejarah tradisional menekankan pada struktur bukan prosesnya.
Jadi, dalam penulisan sejarah itu tradisi masyarakat dan peran tokoh sangat
diutamakan sebab adanya gambaran raja kultus dalam penulisannya, seperti di zaman
Raja Kertanegara. Namun, penulisan sejarah tradisional sangat berarti untuk penelusuran
sejarah di masa lalu.
b. Penulisan sejarah kolonial (historiografi kolonial)
Penulisan sejarah kolonial adalah penulisan sejarah yang bersifat eropasentris.
Tujuan penulisan ini adalah untuk memperkukuh kekuasaan mereka di Nusantara.
Penulisan sejarah yang berfokus barat ini jelas merendahkan derajat bangsa Indonesia
dan mengunggulkan derajat bangsa Eropa, misalnya, pemberontakan Diponegoro dan
pemberontakan kaum Padri. Tokoh itu oleh bangsa Eropa dianggap pemberontak,
sedangkan Daendels dianggap sebagai figur yang berguna. Tulisan mereka dianggap
sebagai propaganda penjajahan serta pembenaran penjajahan di Indonesia. Padahal,
kenyataannya adalah penindasan. Akan tetapi, ada juga penulis Eropa yang cukup
objektif, misalnya, Dr. Van Leur dengan karya tulisan Indonesian Trade and Society
dan karya Dr. Schrieke, Indonesia Sociological Studies, yang memaparkan perdagangan
dan masyarakat Nusantara. Dasar pemikiran sarjana Belanda itu dirumuskan
kembali secara sistematik oleh Dr. Sartono Kartodirdjo dengan pendekatan
multidimensional, yaitu pendekatan dalam penulisan sejarah dengan beberapa ilmu
sosial, ekonomi, sosiologi, dan antropologi.
c. Penulisan sejarah nasional (historiografi nasional)
Penulisan sejarah nasional adalah penulisan sejarah yang bersifat Indonesia
sentris, dengan metodologi sejarah Indonesia dan pendekatan multidimensional. Jadi,
penulisannya dilihat dari sisi kepentingan nasional. Historiografi nasional dirintis oleh
Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo. Dalam historiografi nasional akan terungkap betapa
pedihnya keadaan di zaman pergerakan nasional Indonesia oleh penjajahan barat
sehingga membangkitkan semangat rakyat untuk merdeka. Historiografi nasional juga
akan mengungkapkan bagaimana mengisi kemerdekaan Indonesia yang sudah teraih
pada 17 Agustus 1945 itu agar menjadi negara yang maju dan dihormati bangsa lain.
Dalam perkembangannya, penulisan sejarah di Indonesia pada biasanya bersifat
naratif yang mengungkapkan fakta tentang apa, siapa, kapan, dan di mana serta
menerangkan bagaimana itu terjadi. Supaya sejarah dapat mengikuti perkembangan
ilmu lainnya maka wajib meminjam konsep ilmu-ilmu sosial dan diuraikan secara
sistematis.
Beberapa pendekatan yang digunakan dalam perkembangan penulisan sejarah
sebagai berikut.
1) Pendekatan sosiologi untuk melihat segi sosial peristiwa yang dikaji, misalnya,
golongan masyarakat mana yang memelopori.
38

2) Pendekatan antropologi untuk mengungkapkan nilai yang mendasari perilaku para
tokoh sejarah, status, gaya hidup, dan sistem kepercayaan.
3) Pendekatan politik untuk menyoroti struktur kekuasaan, jenis kepemimpinan,
tingkat sosial, dan pertentangan kekuasaan.
Tugas
Bagilah kelas Anda menjadi beberapa kelompok lalu carilah sumber tertulis mengenai
perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang terjadi di sekitar tempat tinggal Anda.
Ceritakan kembali dalam bentuk tulisan, setiap kelompok dua buah!
Rangkuman
1. Masyarakat praaksara adalah masyarakat yang belum mengenal tulisan.
2. Masyarakat praaksara mewariskan masa lalunya melalui warisan keluarga dari ayah
kepada anak, dari anak kepada cucu dan selanjutnya dengan cara tradisi lisan.
3. Masyarakat praaksara terbagi atas:
• masyarakat yang hidup pada taraf berburu dan mengumpulkan dilanjutkan hidup
meramu,
• masyarakat hidup dari bercocok tanam, dan
• masyarakat yang sudah mengenal keterampilan (undagi).
4. Sebelum Hindu masuk ke Nusantara, nenek moyang kita sudah mempunyai sepuluh macam
budaya, yakni kemampuan berlayar, kemampuan bersawah, mengenal astronomi, mengenal
sistem mocopat, kesenian wayang, seni gamelan, seni membatik, pengaturan masyarakat,
sistem ekonomi perdagangan, dan sistem kepercayaan.
5. Jejak sejarah pada masa lalu dapat diketahui dari folklore, mitologi, legenda, dongeng,
upacara, dan lagu-lagu daerah.
6. Jejak-jejak masa lampau menjadi bahan penting untuk menuliskan kembali sejarah sebab
memuat informasi yang dijadikan bahan penulisan sejarah.
7. Jejak sejarah dibedakan menjadi dua.
• Jejak historis, yaitu jejak sejarah yang menurut para sejarawan mempunyai atau
mengandung informasi mengenai kejadian yang historis sehingga dapat dipergunakan
untuk menyusun penulisan sejarah.
• Jejak nonhistoris, yaitu suatu kejadian pada masa lampau yang di dalamnya tidak
memiliki nilai sejarah atau hanya adalah kejadian semata, tidak ada kaitan dengan
peristiwa sejarah.
8. Nenek moyang kita meninggalkan jejak sejarah berupa tradisi nenek moyang yang hidup
berburu dan mengumpulkan, tradisi nenek moyang yang hidup sudah menetap di masa
bercocok tanam, dan tradisi di masa perundagian.
9. Rekaman tertulis dalam tradisi sejarah terdiri atas sumber tertulis sezaman dan setempat,
sumber tertulis sezaman tidak setempat, dan sumber tertulis setempat tidak sezaman.
Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan ....
39
10. Dalam perkembangan penulisan sejarah terdapat tiga jenis penulisan, yakni penulisan
sejarah tradisional, penulisan sejarah kolonial, dan penulisan sejarah nasional.
Evaluasi
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jelas!
1.
2.
3.
4.
5.
Apakah definisi jejak historis dan jejak nonhistoris?
Sebutkan bermacam-macam macam rekaman tertulis yang Anda ketahui!
Apa sebab sumber tertulis sezaman dan setempat dapat dipercaya?
Apa bedanya penulisan sejarah kolonial dan penulisan sejarah nasional?
Uraikan konsep pendekatan dalam penulisan sejarah menurut Dr. Sartono Kartodirdjo!
Refleksi
Sudahkah Anda paham mengenai tradisi sejarah masyarakat Indonesia masa praaksara
dan masa aksara? Apabila Anda belum memahaminya, coba mencari sumber
referensi terkait lalu buatlah ringkasannya sebagai tambahan materi.

Sumber : Cakrawala Sejarah SMA/MA Kelas X

Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Praaksara


1. Periodisasi masyarakat Indonesia masa praaksara
Dari kehidupan masyarakat zaman praaksara, kita mendapatkan warisan berupa alat-
alat dari batu, tulang, kayu, dan logam serta lukisan pada dinding-dinding gua. Masa
lampau yang hanya meninggalkan jejak-jejak sejarah itu menjadi komponen penting
dalam usaha menuliskan sejarah kehidupan manusia. Jejak-jejak itu mengandung
informasi yang dapat dijadikan bahan penulisan sejarah dan akan disampaikan dari
generasi ke generasi selanjutnya sampai turun temurun. Jejak sejarah yang historis
adalah jejak sejarah yang menurut para ahli memiliki informasi mengenai kejadian-
kejadian historis, sehingga dapat digunakan untuk penulisan sejarah. Jejak historis ada
dua, yaitu jejak historis berwujud benda dan jejak historis yang berwujud tulisan.
Jejak historis berwujud benda adalah hasil budaya/tradisi di masa kuno, misalnya,
tradisi zaman Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, Megalitikum, dan Perundagian.
a. Tradisi manusia hidup berpindah (zaman Paleolitikum)
Manusia di zaman hidup berpindah termasuk jenis
Pithecanthropus. Mereka hidup dari mengumpulkan
makanan (food gathering), hidup di gua-gua, masih tampak
liar, belum mampu menguasai alam, dan tidak menetap.
Kebudayaan mereka sering disebut kebudayaan Pacitan dan
kebudayaan Ngandong. Disebut kebudayaan Pacitan sebab
alat-alat budayanya banyak ditemukan di Pacitan (di Pegu-
nungan Sewu Pantai Selatan Jawa) berupa chopper (kapak
penetak) juga disebut kapak genggam. Karena masih terbuat
dari batu maka disebut stone culture (budaya batu). Alat
sejenis juga ditemukan di Parigi (Sulawesi) dan Lahat
(Sumatra).
Sumber: Sejarah Nasional 1
Gambar 2.2 Kapak genggam,
contoh kehidupan Pacitan
Kebudayaan Ngandong ditemukan di desa Ngandong (daerah Ngawi Jawa Timur).
Alatnya ada yang terbuat dari tulang maka disebut bone culture. Di Ngandong
ditemukan juga kapak genggam, benda dari batu berupa flakes dan batu indah berwarna
yang disebut chalcedon.
Gambar 2.3 Alat serpih bilah dan perangkat tulang
Sumber: Sejarah Nasional 1
Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan ....
19
b. Peningkatan hidup manusia memasuki hidup setengah menetap/semisedenter
(zaman Mesolitikum)
Mereka sudah mempunyai kemajuan hidup seperti adanya kjokkenmoddinger (sampah
kerang) dan abris sous roche (gua tempat tinggal). Alat-alatnya adalah kapak genggam
(pebble) juga disebut kapak Sumatra, kapak pendek (hache courte), dan pipisan.
c. Tradisi manusia zaman hidup menetap (zaman Neolitikum)
Pada zaman ini, manusia sudah mulai
food producing, yakni mengusahakan bercocok
Inskripsi
tanam sederhana dengan mengusahakan
Pembuatan gerabah dilakukan masyarakat
ladang. Jenis tanamannya adalah ubi, talas,
sampai sekarang, seperti di Jawa (Tuban;
padi, dan jelai. Mereka menggunakan peralatan
Gunung Tangkil dekat Bogor; desa Anjun
dekat Pamanukan; Kasongan, Yogyakarta;
yang lebih bagus seperti beliung persegi atau
Bayat, Klaten; Gengkuang, Garut), di Sumatra
kapak persegi dan kapak lonjong yang
(daerah Gayo, Aceh), dan di Papua (desa
dipergunakan untuk mengerjakan tanah. Kapak
Abare, Kayu Batu di Teluk Humboldt).
persegi ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, dan
Kalimantan Barat, sedangkan di Semenanjung
Melayu kapak ini disebut kapak bahu. Kapak lonjong berbentuk bulat telur, banyak
ditemukan di Sulawesi, Papua, atau kepulauan Indonesia Timur. Alat serpih untuk mata
panah dan mata tombak ditemukan di Gua Lawa Sampung (Jawa Timur) dan Cabbenge
(Sulawesi Selatan). Di Malolo (Sumba Timur) ditemukan kendi air. Pada masa ini,
terjadi perpindahan penduduk dari daratan Asia (Tonkin di Indocina) ke Nusantara
yang lalu disebut bangsa Proto Melayu pada tahun 1500 SM melalui jalan barat
dan jalan utara. Alat yang digunakan adalah kapak persegi, beliung persegi, pebble
(kapak Sumatra), dan kapak genggam. Kebudayaan itu oleh Madame Madeleine
Colani, ahli sejarah Prancis, dinamakan kebudayaan Bacson-Hoabinh. Kepercayaan
zaman bercocok tanam adalah menyembah dewa alam.
d. Tradisi Megalitikum
Pada zaman ini, perangkat dibuat dari batu besar seperti menhir, dolmen, dan sarkofagus.
Menhir adalah tugu batu besar tempat roh nenek moyang, ditemukan di Sumatra
Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan. Dolmen adalah meja batu besar (altar),
terdapat di Bondowoso, Jawa Timur. Sarkofagus adalah kubur peti batu besar. Di
Sulawesi, sarkofagus dikenal dengan sebutan waruga.
e. Tradisi zaman perundagian
Setelah hidup menetap, mereka semakin
pandai membuat alat, bahkan dengan kedatangan
bangsa Deutero Melayu pada 500 SM, mereka
sudah mampu membuat perangkat dari logam (sering
disebut budaya Dongson sebab berasal dari
Dongson). Zaman ini disebut zaman kemahiran
teknologi. Mereka juga sudah mengenal sawah
Sumber: Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia
Gambar 2.4 Kapak corong dan nekara
20

dan sistem pengairan. Jenis benda logam yang dibuat di Indonesia pada zaman ini,
antara lain, sebagai berikut.
1) Nekara, yaitu semacam tambur besar yang ditemukan di Bali, Roti, Alor, Kei, dan
Papua.
2) Kapak corong, disebut demikian sebab bagian tangkainya berbentuk corong.
Sebutan lainnya adalah kapak sepatu. Benda ini digunakan untuk upacara.
Banyak ditemukan di Makassar, Jawa, Bali, Pulau Selayar, dan Papua.
3) Arca perunggu, ditemukan di daerah Bangkinang, Riau, dan Limbangan, Bogor.
Selain itu, ada perhiasan perunggu, benda besi, dan manik-manik. Kepercayaan di
zaman perundagian adalah menyembah roh nenek moyang (animisme).
Konsep dan Aktualita
Akulturasi kebudayaan adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang melahirkan kebudayaan baru.
Menurut Brandes, sebelum Indonesia terpengaruh oleh Hindu, di Indonesia sudah memiliki sepuluh macam
budaya asli, yaitu
1. kemampuan berlayar,
2. kemampuan bersawah,
3. mengenal astronomi,
4. sistem mocopat,
5. kesenian wayang,
6.
7.
8.
9.
10.
seni gamelan,
seni membatik,
pengaturan masyarakat,
sistem ekonomi dengan mengenal perdagangan, dan
sistem kepercayaan.
2. Ciri-ciri masyarakat praaksara
Setelah nenek moyang kita datang di Nusantara dan menetap, mereka meninggalkan
tradisi, ketentuan kemasyarakatan, serta religi yang ditaati oleh mereka dan anak keturunannya.
Tradisi itu diwariskan kepada masyarakat hingga sekarang ini. Kemampuan nenek
moyang kita sebelum mengenal tulisan dan sebelum terpengaruh budaya Hindu-Buddha
oleh Brandes diklasifikasikan sebagai berikut.
a. Kemampuan berlayar
Nenek moyang bangsa Indonesia datang dari Yunan sebelum Masehi. Mereka
sudah pandai mengarungi laut dan wajib menggunakan perahu untuk sampai di
Indonesia. Kemampuan berlayar ini dikembangkan di tanah baru, yaitu di Nusantara,
mengingat kondisi geografi di Nusantara terdiri banyak pulau. Kondisi ini mengharuskan
menggunakan perahu untuk mencapai kepulauan lainnya.
Salah satu ciri perahu yang digunakan nenek moyang
kita adalah perahu cadik, yaitu perahu yang menggunakan
alat dari bambu atau kayu yang dipasang di kanan kiri
perahu.
Pembuatan perahu biasanya dilakukan secara
gotong royong oleh kaum laki-laki. Setelah masa per-
undagian, aktivitas pelayaran juga semakin meningkat.
Perahu bercadik yang adalah alat angkut tertua
tetap dikembangkan sebagai perangkat transportasi serta Sumber: Indonesian Heritage, Ancient History
Gambar 2.5 Perahu bercadik
perdagangan. Bukti adanya kemampuan dan kemajuan
Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan ....
21
berlayar itu terpahat pada relief candi Borobudur yang berasal dari abad ke-8.
Relief itu melukiskan tiga jenis perahu, yaitu
1) perahu besar yang bercadik,
2) perahu besar yang tidak bercadik, dan
3) perahu lesung
Bentuk perahu lesung adalah sampan yang dibuat dari satu batang kayu yang
dikeruk di dalamnya menyerupai lesung, tetapi bentuknya memanjang. Untuk
memperbesar ruangannya, pada dinding perahu ditempel papan serta diberi cadik pada
sisi kanan dan kirinya untuk menjaga keseimbangan. Kapal yang besar pada relief candi
Borobudur memiliki dua tiang layar yang dimiringkan ke depan, sedangkan layar
yang digunakan pada zaman itu berbentuk segi empat dengan buritan layar berbentuk
segitiga.
Kemampuan berlayar selanjutnya menjadi dasar dari kemampuan berdagang. Oleh
karena itu, pada awal Masehi bangsa Indonesia sudah berlayar sampai batas barat
Pulau Madagaskar, batas selatan Selandia Baru di timur Pulau Paskah, dan di utara
sampai Jepang. Hal ini dapat terjadi sebab nenek moyang mempunyai ilmu astronomi,
yaitu Bintang Biduk Selatan menjadi petunjuk arah selatan.
b. Kemampuan bersawah
Sistem persawahan mulai dikenal bangsa Indonesia sejak zaman Neolitikum, yaitu
manusia hidup menetap. Mereka terdorong untuk mengusahakan sesuatu yang
menghasilkan (food producing). Sistem persawahan diawali dari sistem ladang sederhana
yang belum banyak menggunakan teknologi, lalu meningkat dengan adanya
teknologi pengairan hingga lahirlah sistem persawahan.
Sumber: Lukisan Sejarah
Gambar 2.6 Masa bercocok tanam
Sistem irigasi dalam bercocok tanam digunakan untuk memenuhi kebutuhan air
dengan cara membuat pematang dan saluran air. Cara ini lalu meningkat menjadi
pembuatan terasering di lereng pegunungan, serta pembuatan bendungan atau dam air
yang sederhana. Sementara itu, untuk mengerjakan sawah dibuatlah alat-alat dari
logam dan mengembangkan tanaman biji-bijian, padi, juwawut, serta tanaman kering
lainnya.
22

c. Mengenal astronomi
Pengetahuan astronomi (ilmu perbintangan) sudah dimiliki nenek moyang bangsa
Indonesia. Masyarakat Indonesia sudah mengenal ilmu pengetahuan dan memanfaatkan
teknologi angin musim sebagai tenaga penggerak dalam aktivitas pelayaran dan
perdagangan. Selain digunakan untuk mengenali musim, ilmu astronomi juga sudah
dimanfaatkan sebagai petunjuk arah dalam pelayaran, yaitu Bintang Biduk Selatan dan
Bintang Pari (orang Jawa menyebut Lintang Gubug Penceng) untuk menunjuk arah
selatan serta Bintang Biduk Utara untuk menunjukkan arah utara. Kemampuan
astronomi dan angin musim ini sudah mengantarkan mereka berlayar ke barat sampai di
Pulau Madagaskar, ke timur sampai di Pulau Paskah, dan ke selatan sampai di Selandia
Baru serta ke arah utara sampai di Kepulauan Jepang. Pengetahuan astronomi juga
digunakan dalam pertanian dengan memanfaatkan Bintang Waluku sebagai pertanda
awal musim hujan.
d. Sistem mocopat
Sistem mocopat adalah suatu kepercayaan yang didasarkan pada pembagian
empat penjuru arah mata angin, yaitu utara, selatan, barat, dan timur. Sistem mocopat
dikaitkan dengan pendirian bangunan, pusat kota atau pemerintah (istana), alun-alun,
tempat pemujaan, pasar, dan penjara. Peletakan bangunan itu dibuat skema
bersudut empat di mana setiap sudut memiliki kemampuan dan kekuatan secara
magis. Itulah sebabnya mengapa setiap desa pada zaman kuno selalu diberi sesaji pada
waktu-waktu tertentu, bahkan hari pasaran menurut kalkulasinya juga dikaitkan
dengan sistem mocopat, yaitu
1) arah barat diletakkan pon jatuh hari Senin dan Selasa,
2) arah timur diletakkan legi jatuh hari Jumat,
3) arah selatan diletakkan pahing jatuh hari Sabtu dan Minggu,
4) arah utara diletakkan wage jatuh hari Rabu dan Kamis, dan
5) arah tengah diletakkan kliwon jatuh hari Jumat dan Sabtu.
Jadi pola susunan masyarakat mocopat adalah suatu kepercayaan dalam
menata dan menempatkan suatu bangunan yang bersudut empat, dengan susunan ibu
kota pusat pemerintahan terdapat alun-alun di sekitar istana, serta ada bangunan tempat
pemujaan, pasar, dan penjara.
Di daerah Tuban, Jawa Timur di masa dahulu masih terdapat model desa penenun
sebagai berikut.
1) Pusat desa lama terdapat di tengah desa (dikelilingi desa) di dalamnya terdapat
rumah kepala desa, rumah pencelupan kain, dan rumah ulama.
2) Pusat administrasi berada di belakang rumah kepala desa.
3) Kemudian dikelilingi desa-desa mocopat yang membentuk lingkaran mengelilingi
pusat desa itu.
Demikian kaitan antara sistem mocopat dengan religiositas di masa nenek moyang kita.
Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan ....
23
e. Kesenian wayang
Kesenian wayang semula berpangkal pada pemujaan roh nenek moyang. Semula
wayang diwujudkan sebagai boneka nenek moyang yang dimainkan oleh dalang pada
malam hari. Dengan beralaskan tirai dan tata lampu di belakangnya serta boneka yang
digerak-gerakkan sehingga terlihat bayangan boneka seolah-olah hidup. Jika dalang
kemasukan roh nenek moyang, sang dalang akan menyuarakan suara nenek moyang
yang berisi nasihat-nasihat kepada anak cucu mereka. Setelah kehadiran hinduisme ke
nusantara maka kisah nenek moyang digantikan kisah Ramayana dan Mahabharata.
Bonekanya lalu diganti dengan bentuk tokoh dalam cerita Mahabharata. Fungsinya
pun beralih sebagai pertunjukan dan penontonnya melihat dari depan tirai.
Pada zaman Kediri, muncul kitab Gatotkacasraya yang mulai menampilkan dewa
asli Jawa, yakni Punakawan yang berperan agresif dan bergerak maju dalam membimbing dan
mengawal para Pandawa dari ancaman musuhnya, yakni Kurawa (kitab Gatotkacasraya
memuat unsur javanisasi).
Sumber: Seri Indonesia Indah "Teater Boneka"
Gambar 2.7 Wayang kulit
Pada waktu senggang, nenek moyang yang sudah menetap dan hidup bercocok
tanam menyalurkan bakat seninya serta pemujaan setelah panen dengan pertunjukan
wayang. Pertunjukan itu untuk memuja Dewi Sri yang sudah memberi berkah
pertanian. Selain itu, pertunjukan wayang adalah tontonan yang di dalamnya
terdapat nasihat yang berharga.
f. Seni gamelan
Seni gamelan ada kaitannya dengan seni wayang. Seni gamelan ini digunakan untuk
mengiringi pertunjukkan wayang. Pada waktu musim bercocok tanam sudah usai
masyarakat kuno itu membuat perangkat musik gamelan, mengembangkan seni membatik,
dan mengadakan pertunjukan wayang semalam suntuk untuk dapat dilihat oleh
masyarakat di sekitarnya.
g. Seni membatik
Seni membatik adalah kerajinan membuat gambar pada kain. Cara
menggambarnya mempergunakan perangkat canting yang diisi bahan cairan lilin (orang Jawa
menyebutnya malam) yang sudah dipanaskan, lalu dilukiskan pada kain sesuai motifnya.
Bagian kain
24

yang tidak terkena malam/cairan lilin akan menjadi
berwarna merah setelah dimasukkan dalam air
soga. Membatik dilakukan untuk mengisi waktu
luang bercocok tanam setelah panen, sekaligus
adalah kegiatan religius, sebab ada kegiatan
membatik tertentu yang dimaksudkan untuk
menghormati nenek moyang mereka.
h. Pengaturan masyarakat
Nenek moyang kita hidup berkelompok.
Mereka bersepakat untuk hidup secara bersama,
hidup gotong royong, dan demokratis. Mereka
memilih seorang pemimpin yang dianggap dapat
melindungi masyarakat dari berbagai
gangguan termasuk gangguan roh sehingga
seorang pemimpin dianggap memiliki
kesaktian lebih. Cara pemilihan pemimpin
yang demikian disebut primus inter pares,
yaitu yang terutama di antara yang banyak.
Jadi, seorang pemimpin adalah yang terbaik
bagi mereka bersama.
Sumber: Seri Indonesia Indah "Batik"
Gambar 2.8 Seni membatik
i. Sistem ekonomi dengan mengenal
Sumber: Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia
perdagangan
Gambar 2.9 Desa di Sumba yang adalah warisan
masa megalitikum
Kebutuhan hidup manusia selalu
menuntut untuk dipenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat kuno
saling bertukar barang (barter) dari satu wilayah ke wilayah lain. Jadi, dalam hal
perdagangan, nenek moyang kita sudah melakukan kegiatan barter dikarenakan
mereka belum mengenal uang, nilainya berdasar kesepakatan bersama.
j. Sistem kepercayaan
Manusia yang terdiri dari jasmani dan
rohani memunculkan suatu kepercayaan
bersifat rohani yang lalu dipersonifi-
kasikan dalam bentuk riil. Sistem kepercayaan
masyarakat Indonesia mulai tumbuh pada
masa hidup berburu dan mengumpulkan
makanan, ini dibuktikan dengan penemuan
lukisan dinding gua di Sulawesi Selatan
berbentuk cap tangan merah dengan jari-jari
Sumber: Lukisan Sejarah
Gambar 2.10 Upacara penguburan
yang direntangkan. Lukisan itu diartikan
sebagai sumber kekuatan atau simbol perlindungan untuk mencegah roh jahat. Manusia
di zaman hidup bercocok tanam sudah percaya adanya dewa alam yang menciptakan
banjir, gunung meletus, gempa bumi, dan sebagainya.
Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan ....
25
Pada zaman perundagian, masyarakat sudah percaya kepada roh nenek moyang.
Mereka percaya jiwa dan roh berdiam di batu besar, pohon besar, dan sebagainya.
Kepercayaan ini pada akhirnya diwariskan kepada kita hingga masa sekarang.
Herbert Spencer dan August Comte menerapkan teori evolusi untuk mengkaji
masyarakat manusia dalam kaitannya dengan religi. Menurut keduanya, semua bangsa
di dunia memiliki suatu bentuk religi. Bentuk religi muncul sebab manusia sadar dan
takut akan maut. Bentuk religi tertua adalah penyembahan kepada roh yang merupakan
personifikasi dari jiwa orang yang sudah meninggal, terutama dari nenek moyangnya
yang lalu berevolusi pada pemujaan kepada dewa. Hal ini sesuai dengan
pandangan Edward B. Taylor. Dia mengatakan bahwa tingkat tertua dari evolusi religi
adalah pemujaan kepada jiwa orang yang sudah meninggal yang disebut makhluk halus
(spirit), yakni jiwa yang sudah merdeka, terlepas dari tubuh jasmani untuk selamanya.
Keyakinan ini disebut animisme.
Jadi, dapat kita ketahui bahwa tradisi masyarakat Indonesia sebelum mengenal tulisan
adalah sebagai berikut.
a. Organisasi kemasyarakatannya sudah ada, yaitu adanya masyarakat teratur, demokratis,
dan memilih pemimpinnya dengan primus inter pares dalam bentuk kesukuan.
b. Kemasyarakatan atau pranata sosialnya adalah masyarakat yang hidup berkelompok
sebagai makhluk sosial, dan bergotong royong.
c. Memiliki pengetahuan alam, yakni memanfaatkan alam di sekitarnya sebagai wujud
peduli dan memelihara alam lingkungannya.
d. Sudah mengenal sistem persawahan.
e. Kemampuan berlayar dan berdagang dengan memanfaatkan angin musim, bahkan
mereka sudah berani mengarungi laut luas.
f. Sudah mempunyai teknologi perundagian, yakni pengecoran logam dengan sistem bivalve
dan a cire perdue.
g. Sistem kepercayaan pada mulanya menyembah roh nenek moyang lalu menyembah
dewa.
h. Sudah mempunyai sistem ekonomi barter.
Diskusi
Bandingkan ciri-ciri kehidupan nenek moyang pada masa berburu, bercocok tanam, dan
berundagi. Diskusikan dengan kelompok Anda dan laporkan hasilnya kepada guru!
3. Cara masyarakat yang belum mengenal tulisan mewariskan masa lalunya
Kita menyadari bahwa masyarakat Indonesia saat ini adalah kelanjutan dari
masyarakat terdahulu yang turun temurun menjadi nenek moyang kita dan sudah mewariskan
budayanya kepada masyarakat sekarang. Mereka di masa lampau hidup secara berkelompok,
gotong royong, dan adanya pola kepemimpinan yang demokratis dan rasional, yakni
primus inter pares. Pola kehidupan masyarakat saat itu dapat berkembang hingga masa
kini. Cara mereka dalam mewariskan apa yang mereka miliki dilakukan melalui keluarga
dan masyarakat.
26

a. Melalui keluarga
Keluarga adalah lingkup sosial
terkecil, tetapi paling kental dalam hidup
kebersamaan. Nilai-nilai dan tatanan
kehidupan dibina serta dihidupkan terus
menerus melalui keluarga, mulai cara
membuat perangkat kebudayaan, bahasa, bahkan
unsur upacara-upacara yang kemudian
dilestarikan secara turun temurun.
Sumber: Indonesia Indah Seri Bangsa Indonesia
Gambar 2.11 Upacara adat yang dilaksanakan keluarga,
adalah salah satu cara mewariskan budaya
b. Melalui masyarakat
Masyarakat adalah suatu kumpulan manusia yang tinggal di suatu tempat dalam
jangka waktu yang lama dan menghasilkan kebudayaan. Jadi, masyarakat dapat
dibedakan berdasar budaya yang ada dan berkembang di dalamnya.
Masyarakat prasejarah mewariskan masa lalunya melalui benda-benda kebudayaan,
baik yang terbuat dari batu, tulang, atau logam. Selain itu, mereka juga meninggalkan
jejak-jejak berupa lukisan di dinding gua, sampah dapur, dan gua tempat tinggal.
Selain peninggalan yang berwujud benda (bersifat konkret), masyarakat praaksara
juga meninggalkan budaya tidak berwujud benda (bersifat abstrak). Bentuk-bentuk
peninggalannya dapat berupa sistem religi (kepercayaan) dan adat istiadat (bahasa,
seni, upacara-upacara adat, dan sebagainya). Kebudayaan itu ada yang punah, namun
ada juga yang tetap dipelihara oleh masyararat. Misalnya, pemberian sesaji pada
tempat-tempat yang dianggap keramat, pertunjukan hiburan rakyat, tata cara perkawinan,
kematian, dan kalkulasi hari baik.
Berikut metode-metode pewarisan masa lalu yang dilakukan masyarakat praaksara melalui
keluarga dan masyarakat
a. Folklore
Folklore adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara
turun temurun, tetapi belum dibukukan. Ada juga yang mengartikan folklore adalah
sebuah cerita yang tokohnya adalah binatang, makhluk hidup di luar manusia, atau
personifikasi abstrak yang mengambil perwatakan kemanusiaan dan berbicara serta
bertingkah seperti manusia. Folklore dibedakan atas folklore lisan dan folklore nonlisan.
Folklore lisan adalah folklore yang disebarluaskan dan diwariskan dalam bentuk lisan,
seperti bahasa, teka-teki, dan puisi rakyat. Folklore nonlisan adalah folklore dalam
bentuk benda-benda kuno hasil kebudayaan, misalnya, arsitektur rakyat, kerajinan
tangan, pakaian, perhiasan tradisional, dan obat tradisional.
b. Mitologi
Mitologi adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan bertalian
dengan terjadinya tempat, alam semesta, para dewa, adat istiadat, dan konsep dongeng
suci. Jadi, mitologi adalah cerita mengenai asal-usul alam semesta, manusia, atau
bangsa yang diungkapkan dengan cara-cara gaib dan mengandung art i yang
dalam.
Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan ....
27
Setiap suku bangsa di wilayah Nusantara
memiliki mitologi, yang ceritanya dikaitkan
dengan kehidupan masyarakat di suatu daerah,
misalnya, cerita terjadinya mado-mado atau
marga di Nias (Sumatra Utara), cerita barong
di Bali, cerita pemindahan Gunung Suci
Mahameru di India oleh para dewa ke Gunung
Semeru yang dianggap suci oleh orang Jawa
dan Bali. Cerita mitologi yang paling luas
Sumber: Ensiklopedi Suku Bangsa
Gambar 2.12 Barong lengkap dengan sesajinya
persebarannya nyaris di seluruh Asia
Tenggara adalah mitologi Dewi Padi atau Dewi Sri.
c. Legenda
Legenda adalah cerita rakyat yang dianggap benar-benar terjadi yang ceritanya
dihubungkan dengan tokoh sejarah, sudah dibumbui dengan keajaiban, kesaktian, dan
keistimewaan tokohnya.
Legenda ada empat kelompok sebagai berikut.
1) Legenda keagamaan
Di dalam legenda keagamaan banyak kita jumpai kisah-kisah para wali
penyebar Islam, misalnya, Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar di Jawa, sedangkan
di Bali dapat kita temui legenda mengenai kisah Ratu Calon Arang.
2) Legenda kegaiban
Legenda ini berkisah mengenai kepercayaan rakyat pada alam gaib, misalnya
kerajaan gaib orang Bunian di rimba raya Sumatra, kerajaan gaib Pajajaran di Jawa
Barat, kerajaan gaib Laut Kidul di Jawa Tengah dan Yogyakarta, dan Si Manis
Jembatan Ancol dari Jakarta.
3) Legenda perseorangan
Legenda perseorangan menceritakan tokoh tertentu yang dianggap pernah ada
dan terjadi, misalnya Sabai nan Aluih dan Si Pahit Lidah dari Sumatra, Si Pitung
dan Nyai Dasima dari Jakarta, Lutung Kasarung dari Jawa Barat, Rara Mendut dan
Jaka Tingkir dari Jawa Tengah, Suramenggolo dari Jawa Timur, serta Jayaprana
dan Layonsari dari Bali.
4) Legenda lokal
Legenda lokal adalah legenda yang berhubungan dengan nama tempat terjadinya
gunung, bukit, danau, dan sebagainya. Misalnya, legenda terjadinya Danau Toba di
Sumatra, Sangkuriang (legenda Gunung Tangkuban Parahu) di Jawa Barat, Rara
Jonggrang di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Ajisaka di Jawa Tengah, dan Desa
Trunyan di Bali.
28

Sumber: Seri Indonesia Indah
Gambar 2.13 Gunung Tangkuban Perahu, legenda Sangkuriang dari Jawa Barat
d. Dongeng
Dongeng adalah cerita rakyat yang tidak benar-benar terjadi, diceritakan karena
berisi petuah, kebaikan mengalahkan kejahatan, ajaran moral, dan petuah bijak
lainnya. Ada dongeng hewan (fabel) di Bali yang terkenal dengan nama tokoh Tantri
dan di Jawa ada tokoh Si Kancil. Dongeng manusia contohnya Jaka Tarub yang mencuri
pakaian bidadari berasal dari Jawa Timur, dongeng Pasir Kumang dari Jawa Barat,
dongeng Raja Pala dari Bali, dongeng Meraksamana dari Papua, dongeng Ande-Ande
Lumut dan Brambang Bawang dari Jawa Tengah, dan dongeng Bawang Merah dan
Bawang Putih dari Jakarta. Dongeng lucu, contohnya, Si Kabayan dari Jawa Barat,
Gasin Meuseukin dari Aceh, dan Singa Rewa dari Kalimantan Tengah.
e. Upacara
Upacara adalah serangkaian tindakan atau perbuatan yang terikat pada aturan
tertentu berdasar adat istiadat, agama, dan kepercayaan. Jenis upacara dalam
kehidupan masyarakat, antara lain, upacara penguburan, upacara perkawinan, dan
upacara pengukuhan kepala suku.
1) Upacara penguburan
Upacara penguburan adalah upacara yang dikenal pertama kali dalam
kehidupan manusia sebelum mengenal tulisan. Upacara penguburan menimbulkan
kepercayaan bahwa roh orang meninggal akan pergi ke satu tempat tidak jauh dari
lingkungan di mana dia pernah tinggal semasa hidupnya. Sewaktu-waktu roh itu
dapat dipanggil untuk membantu masyarakat jika ada bahaya atau kesulitan.
2) Upacara perkawinan
Upacara perkawinan dilaksanakan di tengah masyarakat sejak dahulu sampai
sekarang. Perkawinan sekaligus mempertemukan dan mengawali hubungan dua
keluarga yang saling bersahabat. Tiap-tiap daerah memiliki adat berbeda-beda,
seperti di daerah Minangkabau menganut garis keturunan matrilineal (garis ibu),
sedangkan suku Batak, Bali, Jawa menganut garis patrilineal (garis keturunan laki-
laki).
Tradisi Sejarah Masyarakat Indonesia Masa Praaksara dan ....
29
3) Upacara pengukuhan kepala suku
Kedudukan kepala suku di masa lalu adalah besar sebab dia harus memiliki
kesaktian, keahlian, pengalaman, dan pengaruh yang kuat sebab kepala suku
adalah pelindung kelompok sukunya dari bermacam-macam ancaman. Kepala suku bahkan
dianggap ahli dalam upacara pemujaan, upacara penempatan rumah, upacara
pembukaan ladang, dan upacara adat lainnya.
f. Lagu-lagu daerah
Lagu-lagu daerah atau lagu rakyat adalah syair-syair yang ditembangkan dengan
irama menarik dalam bentuk lisan. Lagu rakyat dikenal dengan sebutan folksong. Lagu
rakyat untuk anak-anak, misalnya, di Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah Cublak-
Cublak Suweng, Ilir-Ilir, dan Jamuran; di Jawa Barat adalah Cing Cangkeling; di
Kalimantan Barat adalah lagu Cik-Cik Periok; di Bali dikenal lagu Meyong-Meyong.
Lagu-lagu rakyat umum, misalnya, lagu Butet dari Batak yang dilantunkan dengan
nada sedih, lagu Tenang Tanage dari Manggarai, Flores, dengan nuansa perenungan,
dan lagu Kampuang nan Jauh di Mato dari daerah Sumatra Barat. Ada pula nyanyian
religius yang dipadukan dengan tarian di daerah Aceh, yaitu Saman dan Seudati, dan
di Nias ada lagu Hoho.

Sumber : Cakrawala Sejarah SMA/MA Kelas X